![]() |
| Image source |
“Jadi gimana perasaanmu?”
“Seneng... Bahagia.”
“Waktu pertama kali lihat mereka… Gimana? Gak sedih?”
Kakak saya kemudian melanjutkan kalimatnya dengan bercerita tentang
pengalamannya menjadi terapis untuk mereka. Anak-anak dengan kebutuhan khusus.
Menceritakan bagaimana menahan kesedihan yang mendalam saat bertemu dengan
anak-anak itu untuk pertama kalinya. Bahkan ada seorang temannya yang saking
sedihnya, sampai menangis saat bertemu dengan mereka.
Tapi saya, tidak merasakan kesedihan tersebut. Untuk apa bersedih?
Bukankah mereka adalah orang-orang pilihan? Yang kebetulan diciptakan berbeda
dari kita? Dan kita yang menyebutnya dengan “tuna”?




