Minggu, 13 Maret 2016

Bila Duniaku Begitu Sunyi, Apakah Kau Akan Tetap Tinggal?

Image source

“Jadi gimana perasaanmu?”

“Seneng... Bahagia.”

“Waktu pertama kali lihat mereka… Gimana? Gak sedih?”
Kakak saya kemudian melanjutkan kalimatnya dengan bercerita tentang pengalamannya menjadi terapis untuk mereka. Anak-anak dengan kebutuhan khusus. Menceritakan bagaimana menahan kesedihan yang mendalam saat bertemu dengan anak-anak itu untuk pertama kalinya. Bahkan ada seorang temannya yang saking sedihnya, sampai menangis saat bertemu dengan mereka.

Tapi saya, tidak merasakan kesedihan tersebut. Untuk apa bersedih? Bukankah mereka adalah orang-orang pilihan? Yang kebetulan diciptakan berbeda dari kita? Dan kita yang menyebutnya dengan “tuna”? 

***

Pertemuan pertama kami penuh dengan senyuman. Karena senyum, adalah cara terbaik untuk mengetuk pintu hati seseorang. Perlahan, kami mulai akrab dan saling berbagi cerita. Ada Feri, Tasya, Raka, Adit, Kelvin, Riska, Eva, Anisa, dan masih banyak lagi yang lainnya. Walaupun di antara mereka ada yang berusia lebih tua daripada kami, tapi tetap saja kami harus memperlakukan mereka sebagai “adik”. Karena perkembangan mental mereka yang tidak sama dengan kita. Karena mereka luar biasa.

Entah kenapa, dengan bertemu mereka, banyak dari kami yang jadi lebih bersyukur. Dan sadar, betapa seringnya kami lupa pada nikmat-nikmat yang sudah berkelimpahan ini. Kata orang-orang, mereka ini tuna grahita.

Beberapa teman saya naik ke panggung untuk menyanyi, menghibur mereka. Dan parahnya, teman-teman saya memilih untuk menyanyikan lagu Wali – Cari Jodoh. Tahu kan bagaimana hebohnya apabila lagu tersebut dinyanyikan? Memasuki bait kedua lagu, tiba-tiba saja panggung hiburan menjadi penuh. Karena apa lagi? Tak lain karena para siswa SLB yang kami datangi juga ikut naik ke atas panggung. Ikut menyanyi bersama, tak lupa ditambahi dengan adegan joget bareng. Lengkap sudah. Nasib baik, panggung itu tidak roboh :’D

Saya hanya tertawa sebentar menyaksikan ulah mereka di atas panggung, untuk kemudian memalingkan kepala lagi dan melanjutkan menggerakkan kedua tangan saya, membentuk isyarat yang kami gunakan untuk berkomunikasi dengan sebagian mereka yang lain. Mereka yang sedari tadi tenang duduk di kursi bersama kami, dan memandang bingung teman-teman yang bergembira di atas panggung.

Sebagian mereka yang lain. Anak-anak yang di satu sisi memiliki sebuah kekurangan, tapi di sisi lain memiliki banyak sekali kelebihan. Mereka sedari tadi anteng-anteng saja saat Ega dan Asjat bernyanyi, padahal telinga saya sudah merasakan sakit karena mendengar suara sumbang dari dua orang penyanyi dadakan itu. Mereka yang hanya akan tersenyum manis saat disapa, karena mereka tidak dapat mendengarkan apa yang kami katakan, seberapapun kuatnya keinginan mereka untuk dapat mendengarkan. Orang-orang bilang, mereka ini tuna rungu.

Karena kita harus berempati.

Bagaimana rasanya mendapati dunia yang begitu sunyi? Dimana kita tidak pernah mengetahui bagaimana suara kicau burung, bagaimana gemericik yang timbul saat hujan rintik, bagaimana gemuruh yang menakutkan? Apakah kita akan menjalani hidup dengan cara yang sama? Apakah keceriaan masih bisa terlukis di wajah kita?

Dan mereka mengajarkan kepada saya, sesunyi apapun dunia yang ada, toh mereka tetap bisa merasakan keceriaan, juga kebahagiaan. Adalah Quraisy, Iqbal, Egi, Bagus, dan teman-temannya, mereka yang mau membagi cerita kepada kami, cerita yang sederhana namun selalu bisa melukiskan kebahagiaan yang tidak hanya di wajah, juga di hati kami. Pembicaraan yang awalnya hanya sekedar menanyakan nama dan hobi, kemudian berlanjut membicarakan hal yang lebih dalam lagi. Tentang latar belakang keluarga, masalah yang dihadapi, dan pengalaman hidup. Kisah demi kisah terus bergulir, dan tawa serta kemurungan bergantian terlukiskan. Cerita yang tidak ditransmisikan melalui gelombang suara, tapi dari isyarat tangan dan juga hati. Dan saya tidak dapat berbohong, bahwa mendapati teman-teman baru seperti ini, selalu men(y)enangkan.

***

Hari terakhir kami berada di sana. Bertepatan dengan tanggal puncak ulang tahun sekolah mereka. Dan anak-anak luar biasa ini akan melakukan beragam pertunjukan, mulai dari tari-tarian, angklung, hingga marching band. Kala itu, saya dan teman-teman sedang menghampiri mereka dan memberikan semangat sebelum mereka tampil. Tiba-tiba ada seseorang yang memasangkan sesuatu di atas kepala saya. Kemudian saya mendongakkan kepala, dan mendapati Kelvin yang melakukan hal tersebut.

“Yah… Kak, kekecilan ya? Nanti aku buatin yang baru lagi deh,” Puzzle.

Beberapa saat saya terdiam, mencerna kalimat yang seperti puzzle itu. Apa yang kekecilan? Apa yang mau dibuatin yang baru lagi? Hingga kemudian saya sadar.

“Oh, ini… Makasih, ya…” Memegang sesuatu yang ada di atas kepala sambil tersenyum.

It’s not a crown, but for me, it means more than that. Thank you, Kelvin!

Sejujurnya, saya ingin memperlakukan mereka dengan cara yang sama sebagaimana saya memperlakukan orang lain. Tapi saya tetap saja tidak bisa. Karena misalnya, apabila ada lelaki biasa yang asing, yang tiba-tiba memasangkan sesuatu di kepala saya, tentu saja saya tidak akan tersenyum dan berterima kasih, tapi akan menimpuk kepalanya menggunakan kamus kedokteran Dorland. Tapi hal itu tidak saya lakukan pada Kelvin, karena dia luar biasa.

Karena misalnya, apabila ada lelaki biasa yang asing, yang tiba-tiba chat ke saya dengan satu kata gaje bertuliskan “Hi”, tentu chat tersebut tidak akan saya balas. Tetapi kali ini, chat tersebut saya balas, dengan segenap kebahagiaan yang ada di hati saya. Karena chat tersebut dikirim oleh Quraisy, karena dia luar biasa.

Kepada kalian, anak-anak pilihan, terima kasih telah mengajarkan banyak hal :)




Ps: Kamus kedokteran Dorland itu yang ini.
Image Source

50 komentar:

  1. Memberi pelajaran yang berarti untuk saya, ketulusan mereka jarang ada pada orang lain.
    Apa kah ini pengalaman pertama kakak?

    Menurut saya kakak orang yang baik. Salam kenal balik dari saya dan terimkasih karena sudah berkunjung ke blog saya. Semoga saya lulus SNMPTN supaya bisa jadi Mahasiswa Kedokteran seperti kakak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya :)

      Semoga lulus di tempat terbaik, ya :)

      Hapus
  2. gue setuju kalau mereka adalah orang-orang pilihan. dan kita sebagai manusia tentu nya ingin berbagai kesesama dan berempati ke mereka. mantap dara!

    eh, kalau kamu minta bacain kamus kedokteran Dorland buat kamu. aku mundur~ (halah ini apalagi hahaha)

    BalasHapus
  3. Biarpun mereka luar biasa, tapi ada satu hal dari mereka yang jarang-jarang kita punya : ketulusan hati yang bener-bener tulus :')

    Eng... btw, itu kamus kedokteran dorland -_- tebelnya nggak kira-kira ya -_-

    BalasHapus
  4. Pengalaman yang berharga banget, ya.
    Menjadi refleksi diri. Menyadari kelebihan kita dari kekurangan orang lain.
    Btw, baru tau nih kalau mahasiswa kedokteran. Semoga lancar ya kuliahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menyadari kekurangan kita dari kelebihan orang lain juga, bang :)

      Aamiin. Terima kasih doanya :)

      Hapus
  5. mereka itu spesial. harus di kita perhatiin dan care.

    BalasHapus
  6. Iya bisa berinteraksi dengan mereka adalah suatu anugrah, banyak yang dapat dipelajari dari sekedar senyum mereka.
    aku juga punya pengalaman serupa, ngajar pramuka di Sekolah Luar Biasa, ngajarin anak-anak luar biasa, yang tingkahnya juga luar biasa.
    Dan mereka biasanya jauh lebih jujur. Ada yang baru ketemu langsung bisa cerita macem-macem, ada yang pas aku mau pulang ditarik-tarik gak boleh pulang. :')

    Mereka benar-benar istimewa dengan cara mereka sendiri. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah, mantep Dib, ngajarin Pramuka :)

      Hapus
  7. Haiiii Feri
    Haiiii Tasya
    Haiiii Raka
    Haiiii Adit
    Haiiii Kelvin
    Haiiii Riska
    Haiiii Eva
    Haiiii Anisa
    Haiiii Minna-san

    Tuna Grahita itu apaan Dar?

    Wah kamu gak punya perasaan yah Dar?
    Aku aja yang baca sedih, masa kamu yang ketemu langsung dan yang nulis gak sedih?
    Sungguh tidak berperasaan.

    OKe fiks, kalo ketemu kamu di jalan jangan disapa, ntar pasti di kacangin malah lebih parah ditimpuk pake kamus kedokteran Dorland -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gue taunya keterbelakangan mental. CMIIW. :))

      Hapus
    2. Nah itu udah dijelasin Yoga, Ki :)

      Hapus
  8. Muantappp deh n sukses buat ke depannya.

    BalasHapus
  9. Woaaaah. Kakak kamu terapis untuk anak-anak tuna grahita, Dar? Kalian berdua kakak adik yang kece. Sama-sama berada di jalan yang mulia :')

    Terharu pas baca Kelvin pakein topi ulang tahun itu. Kelvin dkk anak-anak yang istimewa. Mereka nggak berkata yang enggak-enggak dan mendengar yang enggak-enggak. Titip salam sama merek ya, Dar. Kalau ketemu lagi. Btw kamus Dorland-nya kalau dipake buat bantal, kepala bakal pegel ya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kakakku sebenarnya fisioterapis, Cha. Tapi pernah punya pengalaman jadi terapis buat anak berkebutuhan khusus juga. :)

      Iya, insya Allah kalau ada kesempatan ketemu sama mereka lagi, ya, Cha.

      Aku suka tiduran pakai kamus Dorland, Cha. Tapi yang versi kamus saku. Kira-kira tebelnya setengah dari itu lah :v

      Hapus
  10. Setuju, mba Dara. Mereka adalah orang orang pilihan. :))
    Ketemu orang orang luar biasa kayak mereka, bikin aku jadi sadar kalo akunya jarang bersyukur. :')

    Kelvin baik banget. Waaaah. Kamu dikasih topi.

    Kamus Dorland. Astagaaaa ;'D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, aku juga rasanya kayak digimanain gitu, Lan. Rasa syukur kita itu gak akan pernah cukup dan gak akan pernah sebanding sama nikmat yang udah kita dapat :')

      Kelvin dan temen-temennya emang baik banget, Lan.

      Hapus
  11. Balasan
    1. Aamiin. Semoga obat herbal sukses juga yak :)

      Hapus
  12. Hm iya yah banyak banget pelajaran hidup yang sebenarnya kita bisa dapatkan dari mereka. Yah emang bener banget, kalau mereka di katakan adalah orang-orang pilihan. Mereka masih tetep bersyukur dengan keadaan mereka, masih tetep semangat. sedangkan saya malah kadang nggak bersyukur dengan apa yang telah di brikan oleh tuhan.

    duh kalau saya di timpuk pake kamus dorland, kira-kira bakalan pinter nggak yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mereka seringkali mengajarkan banyak hal :)

      Kalau mau pinter ya belajar :p

      Hapus
  13. Perbedaan ada karena kita ada

    BalasHapus
  14. Kalimat 'hi' itu adalah basa-basi ketika dalam chat dan saya juga suka bingung sendiri kalau ada yang chat seperti itu hahaha

    BalasHapus
  15. Kak itu Kelvin lagi naik bangku apa gimana kok tinggi, apa kak Dara yang terlalu imut?

    Hmm, dari baca tulisan ini kita yang sudah diberi anggota tubuh yang berfungsi dengan benar harusnya bersyukur. Mereka yang ada diposisi itu bisa semangat dalam menjalani hidup, mungkin semangatnya lebih tinggi dari kita.

    Btw itu kamusnya buat nabok orang, orangnya bakal mati nggak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kelvin itu tinggi.
      Dan di tempat foto itu, kondisi tanahnya emang gak rata, Ki.
      Dan sebenernya, aku juga terlalu imut untuk ukuran anak kuliahan haha.

      Gak sampai mati laaah. Palingan pingsan aja~

      Hapus
  16. Dara memang naq yang baq sekaleeehhhh. Gue baca ini merasa cemen abis. Belum bisa ngelakuin apa-apa yang bermanfaat bagi sesama. :')

    Oiya, kamusnya tebel amat. Bisa jadi bantal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksud pengin sok alay (padahal emang alay) malah typo. Anak baik maksudnya. :(

      Hapus
    2. Jangan sok-sokan alay lah, Yog :))

      Ketebelan kalau yang ini dijadiin bantal. Pegel pegel ntar lehermu, nak haha

      Hapus
  17. wah kalau di timpuk pakai kamus itu ngeri juga ya mbak .. berat banget. hahaha.
    Btw seneng ya bisa ada diantara anak luar biasa itu. pasti men(y)enangkan ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mba. Sungguhan. Men(y)enangkan :)

      Hapus
  18. karena itu kita harus berempati, gue setuju itu ra. :)

    sebelumnya, gue tau buku yang tebel cuma biografi soeharto, ternyata, kamus dorland lebih tebel, empuk itu kena kepala

    BalasHapus
  19. storynya bikin gw terharu :')

    BalasHapus
  20. woh.. hebat, dedikasi nyata. empatinya kerenn...
    wah, wanita yang cukup tegas yak mbak.. kalau cuma ngechat "HI" nggak dibales.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini mah biasa aja kali, Jev~~~

      Habisnya kalau cuma "hi" kan gak jelas. Mbok ya dijelasin, tujuan nge-chat nya mau ngapain :))

      Hapus
  21. Pangeran kok jadi kebayang, ya. Gimana rasanya ditimpuk pake buku setebel itu. XD Gak mau bilang 'HI.' Maunya bilang. Salam kenal, Dara.

    Sejujurnya, cerita seperti ini selalu menginspirasi banyak orang, selain hal yang paling utama adalah SADAR. Bener banget, ketika melihat mereka yang menjadi orang-orang pilihan, rasanya rasa syukur ini tak pantas jika tidak diucapkan dan dilakukan.

    Terimakasih sudah berbagi atas kebahagiaan bersama orang-orang pilihan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga, Pangeran :D

      Sadar. Bener banget~
      Terima kasih juga sudah membaca di sini :)

      Hapus
  22. Ini kelanjutan cerita yang di video instagram itu ya dar
    Sebagai akhwat #uhuk, ketika berhadapan dg pria asing yg ngedeket pesti otomatis menimbulkan sekat ya dar..
    Tapi kelvin berbeda, karena diaa istimewa maka kamu menyebutnya sebagai adik, betewe dia lebih tua dari kamu atau lebih muda dar?
    Kamusnya lemparin ke adekku aja dar...oh aku jadi pengen nulis tentang adekku yg kurleb samaaaaa kayak kamu, religius, n bentar lagi mau daftar kedoteran..bagi bagintips dong dar tentang kedokteran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mba :)
      Kelvin termasuk yang lebih muda dari aku, mba. Makanya dianggap adik hehe.

      Sini sini, adiknya mbak Nita suruh main ke rumahku aja. Atau paling nggak, main ke blog sini deh. Biar bisa diajak kenalan dan sharing :)

      Hapus
  23. Berbagi, selalu berarti :)

    PS: itu kamusnya, kan berat? (kasian yang nimpuk, ntar kecapekan)

    BalasHapus
  24. Wah takut mbak sama kamusnya dan kayanya saya gak berani deh chattingan sama mbak takut di tapukin sama kamusnya.

    BalasHapus