Senin, 17 Agustus 2015

Kemerdekaan yang Membangkang

Image source

“Tujuh puluh tahun!” Kau berkata pada diri sendiri. Mempertontonkan rona bunga pada pipimu. Indah.

“Tapi kita masih saja seperti ini.” Ucapku bernada ketus. Sinisme telah mencapai puncaknya.

“Setidaknya kita sudah merdeka!”

“Merdeka? Ya, merdeka tanpa perjuangan. Merdeka tanpa pernah merasakan penjajahan.”

Kau tertawa. Tapi tawa itu sungguh tawa yang sumbang, sebuah tawa tanpa rasa.

“Lalu? Menurutmu? Apakah kita harus dijajah sebelum merdeka?”

“Tepat! Ucapku mantap.”

“Cukuplah tujuh puluh tahun ke belakang Bangsa kita dijajah.” Hitam matamu bergerak ke kiri, membangkitkan ingatanmu tentang masa lalu. Tentang buku-buku sejarah yang kau baca. Tentang biografi para tokoh orde baru, orde lama, reformasi. Hitam matamu semakin dalam, membuatku ingin menyelam ke dalam pikiranmu. Ikut dalam arus sanubarimu.

“Tepat tujuh puluh tahun yang lalu para pahlawan telah berhasil mengusir penjajah dari tanah kita. Proklamasi telah dikumandangkan. Itu artinya kita telah merdeka, bukan?” Kau mencoba protes.

“Jika para pahlawan berhasil menumpas penjajahan, maka kemerdekaan ini murni milik mereka, bukan kita.”

“Tapi kita adalah penerus mereka, dan kemerdekaan ini juga milik kita…” Kau menoleh padaku. “Apakah kau masih merasa dijajah?”

Imajinasiku saat itu tak mampu memberi jawaban atas pertanyaanmu. Hitam matamu semakin dalam, memperlihatkan sebuah jurang tak berdasar.

“Entahlah, yang pasti aku tak mau terjebak dalam euforia palsu ini.”

Tiba-tiba terdengar gemuruh tepuk tangan yang menggema. Sorak sorai bergembira. Apa yang menyebabkan ini semua? Pandanganku menjelajah sekeliling. Pupil-pupil orang tak dikenal yang berada di sekitarku tertuju pada satu titik. Lelaki di ketinggian itu!

Badannya berlumuran cairan yang asing bagiku. Ia tersenyum dengan bangga, telanjang dada. Tanpa sungkan ia lemparkan semuanya. Manusia-manusia di sekitarku bagai sakaw menunggu candu, brutal merebut “lemparan-lemparan” itu. Mereka bilang inilah cara merayakan kemerdekaan, menikmati hadiah dari para pahlawan terdahulu. Panjat pinang!

Di sudut yang lain kulihat rakyat yang lapar. Sorot mata putus asa para petani yang kehilangan tanah garapan. Rintihan saku pengangguran. Iuran komite yang mencekik. Semua suara tiba-tiba saja menjadi kontra dengan eufoni dan harmoni, memecah gendang telinga, menyayat retina.

Rupanya kau juga melihat itu, realitas yang terlupakan. Jiwamu yang sedari tadi tenang, kini bergejolak penuh dinamika. Sukmamu kusut masai.

“Kita… masih terjajah!” Kau tercekat, menyadari hal yang tak pernah kau sadari selama ini. “Tujuh puluh tahun, kita berada dalam pembangkangan terhadap esensi kemerdekaan itu sendiri… Distorsi hak asasi.”

“Lalu, apa hakikat merdeka menurutmu?”

“Merdeka adalah euforia membara saat kau menaklukkan sebuah pelenyapan asa: penjajahan.”

***

"Kemerdekaan adalah resistensi dalam menghadapi tekanan hidup, kekuatan besar dalam dirimu yang tak mungkin diutak-atik oleh siapapun."
- Dara Agusti Maulidya, single, Agustus ini kepalanya genap jadi dua -



Disclaimer:
Ini adalah flash fiction yang pernah saya buat di tahun 2012 sebagai kontribusi bagi program 67 Cerita untuk Indonesia. Karena saya posting ulang di tahun 2015, maka ada sedikit perubahan, yaitu mengubah setiap kata "enam puluh tujuh tahun" menjadi "tujuh puluh tahun" di dalam FF ini. Selamat membaca! Merdeka!

"Maksudnya adalah bahwa Indonesia tidak pernah betul-betul merdeka? Tidak pernah sampai sekarang. Sekarang Globalisme berkuasa. Semua dijadikan barang dagangan, bahkan juga politik, partai, dan manusia. Semua dipandang sebagai barang dagangan."
- Pramoedya Ananta Toer, dalam Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir -


49 komentar:

  1. Dr darlaaaaaku kau telah kmbaliiii
    Hiks lm amat ngilang ni bocahh

    Merdekaaa
    Airr di tempatku lum merdeka ni dar
    Lg kekeringan

    Btw flash fictionnya cetaarr

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dr darlaku ini dibaca begimana sih, Mba? Dar-la-ku? Atau Darla-ku? Atau Dar-LAKU? Hahaha.
      Kangen, ya, Mba?

      Loh, bukannya sekarang sumber air su dekat? Kenapa bisa kekeringan? Ini Agustus pula... Bukannya musim hujan, yak?

      Cetar badai, gak nih Mba? Hehe makasiiiih :)

      Hapus
    2. iya niihhh kamu mah ngilang gitu aja sama kayak si wahyu atau bebi

      hahahha...seraaaaahh ajaa gimana enaknya, betewei kamu ambil spesialis apa sih?
      labil kayaknya musimnya nih

      Hapus
    3. Kak Bebi kadang2 masih update, mba.
      Si Wahyu yang ngilang beneran. Kangen sama tu bocah haha.

      Spesialis apa mba? Kuliah kah? Atau apa?

      Iya, mba. Disini udah mulai kabut asap...

      Hapus
    4. Iya jurusan kul nya ambil apa dar

      Hapus
    5. Allahu akbar.... Pantes tadi malam gue mimpi buruk... Ternyata ada yang ngomongin gue dibelakang....

      Hapus
  2. MERDEKA GAK MERDEKA YANG PENTING HARUS BISA TETAP NGEBLOG!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iye kan jak lah ape kate abang nih wkwk

      Hapus
  3. Merdekaaa ! Walau masih belum begitu ngerti sama ceritanya tapi intinya 70 tahun ini belum ada perubahan yang berarti? gitu kali yak? hehehe

    pokoknya merdekaaaa!!! :D

    BalasHapus
  4. Kata-kata Pramoedya ngena banget. :))
    Rintihan saku pengangguran. Ini kok berasa buat gue. :(

    Merdeka hanya untuk mereka yang punya banyak uang, ya. Kaum-kaum yang kalangan bawah boro-boro mau ikutan lomba, mau makan aja susah. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bu... Bu... Bukan maksud buat kamu, Yog. Beneran...

      Nah, iya. Itu maksudnya.

      Hapus
  5. Saya belum merdeka Dar
    Hati ini masih sering dijajah sama cewe lain :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cewek lain? Cewek lain yang mana, Ki? Jadi ada ya, yang selain aku?

      Wahaha becandaaa

      Hapus
    2. Iya Dar ada cewe lain selain kamu hahaha :D

      Hapus
    3. Oh jad ini ya balasan kamu ke aku, Ki... Kamu jahat! Jahatttt!!!

      Hahaha

      Hapus
    4. Saya gak jahat kok Dar, cuma menjalankan sunah aja
      Kan 1 orang laki" boleh punya 4 Istri

      Hahaha :D

      Hapus
    5. Sunah paan. Yang wajib aja belum dikerjain...
      Satu aja kamu belum punya, udah mau empat... Gimana sih Ki Sanak -_-

      Hapus
    6. hahaha yang wajibkan belum waktunya Dar
      Yah gpp Dar, direncanakan dari sekarang :D
      Btw Kamu mau jadi yang keberapa? pertama, kedua, ketiga, atau keempat? :D

      Hapus
    7. Lebih baik aku diracun daripada di-madu, Ki...

      Hapus
    8. Tapikan Madu itu manis Dar, kalo racun udah pahit bisa bikin mati lagi
      Mending dimadu aja

      Hapus
    9. Bodo amat manis. Daripada makan ati setiap hari. Aku masih belum siap dimadu, Ki. Gak siap lahir batin :/

      Hapus
    10. Enak lo Dar tiap hari makan sama ati ayam atau ati sapi :D
      Trus kapan dong siap'a Dar?

      Hapus
  6. Kita doakan saja semoga negeri ini biisa merdeka sebenar benar merdeka :-(

    BalasHapus
  7. Rasa keadilan itu masih belum ada di negara ini :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin rasa strawberry, coklat, kacang, durian, ada mba...

      Hapus
  8. Indonesia tidak pernah betul-betul merdeka..
    Ngena banget ini Dar..

    kita memang belum merdeka. Secara tdk langsung kita masih dijajah. masih banyak yg perlu dibenahi,
    Merdeka mungkin hanya untuk kalangan keatas doang ya Dar,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmm. Iya mungkin gitu, Lan. Rasa-rasanya udah merdeka, tapi berasa dijajah juga.

      Hapus
  9. merdeka, meski belum paham dengan ceritanya hehe

    BalasHapus
  10. sepertinya Indonesia belum merdeka sepenuhnya
    masih dijajah oleh budaya-budaya asing

    BalasHapus
  11. Widih merayakan 17an pake flash fiction :D

    Semoga Indonesia bisa terbebas dari globalisme, jika bukan mereka yang mengubah.
    Maka mungkin kita sebagai anak bangsa yang bisa mengubahnya :)

    BalasHapus
  12. memang kita belum merdeka seutuhnya karena banyaknya orang yang masih terasing di negeri sendiri.
    krisis kepemimpinan membuat cara berfikir kita lebih terbelakang yang hanya ingin menylahkan orang lain.
    semoga saja dihari depan kita bisa merdeka seutuhnya bukan cuma tertawa untuk menyembunyikan kesedihan tapi lebih ke tertawa yang mengobati kesedihan :)

    BalasHapus
  13. nyatanya kita masih dijajah, ekonomi, budaya dll

    BalasHapus
  14. merdeka ga merdeka tetap harus semangat cari uang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi... Batu ginjal udah berhasil ngalahin batu akik, belum?

      Hapus
  15. kjalau belum merdeka mungkin itu buat yang menganggap belum merdeka aja, kalo gue sih nganggepnya sudah merdeka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya terserah juga sih. Bebas-bebas aja mau dianggap apa. Dianggap cuma teman juga gapapa kok :/
      *tiba-tiba baper*

      Hapus
  16. Wih keren ceritanya, emang secara hukum sudah merdeka. Tapi secara hal lain masih belum.

    Kata-katanya keren tuh, salam kenal ya kak :)

    BalasHapus
  17. kapan indonesia bisa sepenuhnya merdeka, lagi nungguin :(

    BalasHapus