Sabtu, 17 Januari 2015

Bahkan Flash Fiction Ini Belum Sempat Kuberi Judul


"...karena menulis harus dibiasakan, harus dipaksakan..."
Mulai nyoba bikin flash fiction lagi nih, hehe. Selamat membaca! :D

***

“Kau harus tahu perbedaannya, Nai. Selama ini, aku mencintaimu seperti dandelion. Mencintaimu dalam diam, menguncinya dengan sangat rapat di hati. Tapi kemudian angin itu datang. Menerbangkan semua perasaanku padamu. Luruh tak bersisa. Dan aku selalu berharap bahwa itu adalah angin kebaikan…”

“Tapi, Ray… Kau tak bisa… Tak bisa seperti itu… Tidak semua hal harus berjalan seperti maumu.”

“Nai, bagaimana lagi aku harus mengatakannya padamu? Aku mencintaimu seperti dandelion, Nai… Ketika semua tunas-tunas perasaan itu semakin mekar… semua itu harus kuluruhkan... Karena ada angin yang menghantamnya, Nay, bukan karena mauku. Kau paham, kan?”

“Tapi, Ray…”

“Apa lagi, Nai? Ketika semua hal tak bisa berjalan sesuai mauku, apakah kau akan memaksa untuk menjalaninya sesuai maumu?”

“Ray, aku hanya memohon agar cintamu padaku bisa tumbuh seperti pohon jati... Tak mengapa kau menggugurkan semuanya jika sungai perasaanmu sedang mengering karena kemarau di hatimu… Tapi kau harus berjanji akan menumbuhkan perasaan itu lagi jika arus sudah tak se-berlawan-an ini…”

“Maafkan aku, Nay. Aku tak bisa. Selamat tinggal.”


Tercekat.
Hening.
Kemudian gelap.

Kemudian suram.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar