Sabtu, 03 Januari 2015

Tentang Menjaga Hati

Menjaga hati?
Tahu apa aku tentang perkara satu ini? Aku bukanlah seseorang yang pandai berkata-kata, dan aku tak tahu apakah aku sudah mempraktikkannya dengan benar atau belum.


Tetapi aku peka.
Iya, entah sejak kapan aku tiba-tiba bisa membaca perasaan seseorang. Kau tahu? Itu sungguh tidak mengenakkan. Maksudku, aku bisa saja mengetahui bahwa si A menyukai si B tanpa si A perlu repot-repot bercerita dan curhat panjang lebar.  Aku bisa tahu hanya dari melihat tatapan dan gerak-geriknya. Dan sungguh, ini rasanya seperti mengetahui rahasia seseorang yang sebenarnya si pemilik rahasia tak ingin ada yang mengetahuinya. Rasanya gak enak. Mau diabaikan, susah. Mau dibilangin ke orangnya, ntar urusannya malah ribet. Ah, tapi kan wajar kalau hanya suka-sukaan saja. Toh kami memang masih remaja. Dan urusan seperti ini memang biasanya fitrah dari Sang Maha Pencipta.


Eh? Fitrah?
Iya sih, dulu waktu masih jaman-jaman SMA, masih awal-awal masuk Rohis gitu, aku sering denger entah dari kajian, dari buku, atau dari kakak-kakak Rohis yang lain bahwa perasaan menyukai lawan jenis itu adalah hal yang disebut “fitrah”. Itu merupakan karunia dari Allah yang ga bisa kita cegah; gak ada yang salah dalam hal ini, toh Allah kan emang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Cinta itu lumrah. There is no problem at all. Tapi yang harus dipahami kemudian adalah: Islam itu tidak pernah mengharamkan cinta. Islam mengarahkan cinta agar ia berjalan pada koridornya. As simple as it :)


Koridor? Koridor yang mana?
Nah ini, ini deeek… yang namanya koridor kan berarti batasan. Segimana pun perasaan yang Allah titipkan ke hati kita terhadap lawan jenis, maka kita harus selalu bisa mengendalikannya. Jangan sampai perasaan tersebut malah jadi boomerang bagi diri sendiri. Kendalikan perasaan itu. Kendalikan! Ingatkah kalian bahwa ada orang-orang yang lebih berhak mendapatkan cinta kalian dibandingkan sosok lelaki itu? Mereka adalah ibu dan ayahmu. Sosok yang cintanya kepadamu sudah terbukti selama bertahun-tahun ini.


Lalu kak, lelaki itu mau digimanain?
Kalau jawab pertanyaan ini… hmm… gimana yaaa… Sebaiknya kamu berpikir jernih terlebih dahulu. Pantaskah sosok lelaki tersebut mendapatkan cinta kalian? Memangnya dia siapa? Apakah dia berani berkomitmen dan bertanggung jawab untuk menikahi kalian? Jika jawabannya masih diragukan, maka sebaiknya kita semua fokus untuk memperbaiki diri masing-masing.


Emangnya kakak gak pernah suka sama cowok ya, kak?
Jleb! Ini pertanyaan atau maicih level 10 sih? Pedes banget :D Pertanyaan kayak gini udah beberapa kali saya dapatkan, terutama saat ikutan main Truth or Dare bareng temen-temen. Yah… sesuai penjelasan saya sebelumnya, bahwa memiliki perasaan tertentu pada lawan jenis merupakan fitrah bagi tiap manusia, tak terkecuali saya. Tapi… saya selalu percaya bahwa jika itu belum waktunya, maka sebaiknya perasaan itu dilupakan saja dulu. Disimpan untuk nanti-nanti, untuk sosok yang halal, bukan diberikan kepada semua lelaki :)


Bagaimana caranya berhenti, mencintaimu?
Jika namamu yang ditulis di Lauhul Mahfudz untuk diriku, niscaya rasa cinta itu akan Allah tanamkan dalam diri kita. Tugas pertamaku bukan mencari dirimu, tetapi menshalihkan diriku.
Wahai seseorang yang telah tertulis dalam Lauhul mahfudzku, calon Imamku dan ayah dari anak-anakku, engkau yang akan membersamai perjalananku nanti.
Aku percaya kau sedang memperbaiki dirimu, memantaskan dirimu untuk menjadi Imam bagi tulang rusukmu dan buah hatimu kelak. Semoga Allah mengistiqomahkan diriku dan dirimu untuk saling menjaga hati kita :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar