Jumat, 05 Juni 2015

Bagaimana Jika...

Fajar itu, sehabis menunaikan sholat subuh. Kalian berjalan beriringan di tepi pantai, melangkahkan kaki kecil-kecil untuk menapaki lembutnya pepasiran. Merasa cukup, lantas kalian menepi untuk duduk barang sebentar. Menghadap ke timur, menatap luas hamparan Laut Cina Selatan yang sering kalian lihat tergambar pada peta.

Hari ini hari Jumat. Dia, dengan mushaf di kedua tangannya, memutuskan untuk membuka halaman 293. Menemukan ayat pertama Surah Al-Kahf, lantas membacanya dengan tartil. Kamu, hanya menggenggam smartphone  di tanganmu. Dengan cekatan, jari-jarimu menggambar pola kunci, lalu membuka aplikasi quran yang telah kamu unduh sejak hari pertama membeli gadget itu. Kamu sedang tidak boleh memegang mushaf hari ini, sebab tamu bulananmu sedang datang.

“Iyyaquu luu na illaa kadzibaa…”

Lemah lembut, kamu mendengar suaranya melantunkan akhir ayat kelima. Kamu kemudian membuka Surah Al-Kahf juga. Mentadabburi isinya dengan khusyuk.

Harmoni yang tercipta antara indahnya fajar, alunan quran dan debur ombak membuat kalian larut dalam bacaan masing-masing. Rasanya, waktu berjalan terlalu cepat kala itu. Kamu mendengar ayat terakhir yang dibacakannya semakin merdu.

“Sadaqallahul’adziim…” Ucapnya seraya menutup mushaf.

Kamu pun sudah selesai membaca tafsir dari surah yang sama, kemudian menutup aplikasi quran yang kamu gunakan. Lalu dia, menolehkan wajahnya padamu. Lantas memanggil.

“Kak…” Panggilnya kala itu. Lirih.

Kamu, karena merasa dipanggil, lalu menolehkan wajahmu kepadanya.

“Iya. Kenapa?”

“Kakak pernah pacaran?” Dia bertanya dengan lugu.

Mendengar pertanyaannya, kamu tersenyum. Lalu, perlahan, menggelengkan kepala.

“Belum.” Jawabmu singkat.

“Yang bener, kak? Zaman udah secanggih ini dan kakak gak pernah pacaran? Emangnya kenapa, kak?”

Lagi, kamu tersenyum padanya. Kamu pun menyodorkan smartphone milikmu padanya. Memperlihatkan sebuah gambar yang kamu jadikan wallpaper. Di layar, terpampang jelas sebuah kalimat yang dikutip dari Sayyid Quthb, berbunyi seperti ini: "Aku tidak hanya mencari perempuan yang perawan fisiknya, tapi juga hatinya. Hati yang belum pernah disentuh kecuali oleh Allah."

Image Source

Matanya memindai kalimat itu lekat-lekat. Dia, kemudian termenung. Lantas berujar.

“Bagaimana jadinya jika semua laki-laki di dunia ini memiliki prinsip yang sama dengan Sayyid Quthb? Akankah bisa aku mendapatkan pendamping hidup? Karena hatiku ini, kak, entah sudah berapa kali singgah dari lelaki satu ke lelaki lainnya.” Suaranya semakin lirih.

“Kenapa kamu bicara begitu? Bukankah kita percaya pada janji-Nya? Bahwa kita diciptakan secara berpasang-pasangan?”

“Tapi, kak… Bukankah kakak juga yang minggu lalu menyampaikan bahwa laki-laki yang baik itu untuk wanita yang baik? Dan berlaku pula sebaliknya?”

“Iya… Tetapi, dek, yang baik itu bukan hanya tentang seseorang yang ‘terjaga’ sejak awal… Yang baik juga adalah tentang seseorang yang mau berproses untuk memperbaiki diri…”

“Tapi kan… Misalnya saja kakak mendapati dua orang yang datang. Mana yang akan kakak pilih, laki-laki yang sudah ‘terjaga’ sejak awal, ataukah yang masih berproses memperbaiki diri?”

Kamu menghela napas. Pilihan yang berat, batinmu.

“Kakakmu ini, memang sudah sejak lama berusaha ‘menjaga’. Tentu, kakak juga pernah berharap agar kelak, Allah berkenan mempertemukan dengan yang sama-sama ‘menjaga’. Kakak tidak pungkiri itu. Tapi, bukankah yang baik dan buruk itu bukan berada dalam pandangan kita sebagai manusia, tapi mutlak adanya pada pandangan Allah?”

“Maksud kakak?”

“Kamu pasti sudah pernah mendengar kisah Fatimah dan Ali, kan? Kita, dengan pemahaman yang terbatas ini tentu menyimpulkan bahwa Fatimah dan Ali sama-sama orang yang baik. Maka dari itu, Allah pertemukan mereka. Tapi, pernahkah kita mentafakkuri, mengapa Allah pertemukan Fir’aun dengan Asiyah? Sebab Asiyah, jelas adalah wanita baik-baik. Sedangkan Fir’aun, mungkin bagaikan sudut 180 derajat dari dirinya. Mereka berkebalikan. Kita sama-sama tahu itu.”

“Jadi, maksud kakak, janji Allah itu tidak benar?”

“Bukan… Bukan seperti itu… Di dunia ini, ada banyak hal yang tak bisa kita nalar dengan kapasitas kita sebagai makhluk yang lemah. Kita tak pernah tahu rahasia langit. Tugas kita hanyalah berusaha sebaik mungkin. Mengimani dengan sebenar-benarnya iman, lantas meluruskan segala niat agar hanya untuk mengharap ridho-Nya.”

Kamu menjelaskan panjang lebar padanya. Berharap dia mengerti. Berharap dia mampu memahami.

Dia, kemudian, tersenyum. Iris matanya memantulkan cahaya dari mentari fajar. Berseri. Indah.

Di hadapan kalian, debur ombak masih sama saja. Air laut kian pasang. Dan fajar, tampaknya menjadi semakin indah.


***

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).


Equator, 050615.

34 komentar:

  1. seorang yang baik bakal dapet seseorang yang baik juga, gitu kan ra ?!
    duh, gabisa komen apa-apa saya mah -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau janji Allah sih begitu, bang :)

      Yaelah, ngakunya gabisa komen apa-apa, tapi tetep aja komen -_-

      Hapus
  2. Baca ini rasanya kayak ditampar, dicambuk, atau apalah apalah.

    Kalau boleh bilang bener, iya memang bener, Dar. Orang yang mau berusaha untuk memperbaiki dirinya juga gak kalah baik sama orang yang 'terjaga' sejak awal. Dan ditakdirkannya Asiyah berjodoh dengan Fir'aun, menurutku untuk meningkatkan ketaqwaannya Asiyah, dan meningkatkan derajatnya juga di hadapan Allah.

    Maaf kalau komennya ini kelihatan sok bijak dan sok tau, Dar. Hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komen kamu gak sok bijak kok, emang beneran bijak, Cha :)

      Eh iya, aku gak maksud mau nampar, nyambuk, atau apalah apalah, kok, beneran...

      Hapus
  3. Setuju nih sama Queto "Aku tidak hanya mencari perempuan yang perawan fisiknya, tapi juga hatinya. Hati yang belum pernah disentuh kecuali oleh Allah." :))

    BalasHapus
  4. kita hanya manusia yang berusaha menjadi yang terbaik, Allah pasti kasih yang terbaik buat kita :)

    BalasHapus
  5. Kata-katanya sangat menyentuh banget mba, :(
    semua orang pasti ingin mendapatkan yang terbaik :) karena tidak sedikit dari mereka yang mencari seorang yang terbaik tanpa mereka sudi untuk merubah diri sendiri ke hal yang lebih baik :)

    BalasHapus
  6. Habis baca ini cuma terdiam dan agak merenungkan tentang maksud yang tersitar dalam tulisan ini. Bener juga yang baik itu ketemu yang baik. Tapi belum tentu juga yang baik ketemu sama yang baik, karena pasti ada suatu rahasia yang dikehendaki Tuhan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tulisan ini gak punya maksud yang tersitar kok, bang. Kalau yang tersirat sih banyak *malah iklan obat nyamuk*

      Hapus
  7. Artikelnya bisa dijadikan renungan untuk kita semua :)

    BalasHapus
  8. Hmm, artikelnya bermanfaat mba, jadi menambah wawasan :)
    Berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya pasti akan mendapatkan yang terbaik juga :)
    Namun semuanya butuh proses juga :)

    BalasHapus
  9. Saya bingung harus ngomong apa.

    Iya bener, yang baik tentunya dengan yang baik pula.

    tentang fir'aun dan asiyah,
    nggak bisa bilang janji Allah itu bohong, karena apa yang dia tetapkan adalah suatu yang pastinya memang baik untuk kita atau bisa juga menjadi suatu ujian untuk mengukur keimanan kita. Percaya aja sama takdir yang sudah ditentuin oleh Allah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga jadi bingung harus ngebales apa ._.

      Iya, bang. Allah tahu yang terbaik buat kita, kok :)

      Hapus
  10. yang baik tetaplah baik, yang baik untuk orang baik

    BalasHapus
  11. Yuk ah Memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik

    BalasHapus
  12. Kita sebagai umat-Nya memang tidak pernah tau apa rahasia langit. Sulit untuk mengira-ngiranya. Ah, aku pun sedang memperbaiki diri. Semoga kita pun dipertemukan dengan yang baik-baik. :)

    BalasHapus
  13. Kamek mo nanges bacenye, mkaseh ye adek....

    BalasHapus
  14. Penuh petuah nihh . . dan baca ini gue jadi merasa bangga kalo masih jomblo udah hampir 2 abad dar, , :)) Makasih yaa . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jomblo hampir 2 abad, Ka? Itu gimana ceritanya? Umur juga baru dua dekade xD

      Hapus
  15. Aku baca ini sambil ngangguk2 sendiri mbak. Benerr banget :) orang yg berusaha untuk memperbaik diri jadi lebih baik itu gak kalah dengan orang yg bener2 terjaga dari awal.
    jadi pengen lebih memperbaiki diri mbak :)

    BalasHapus
  16. terimakasih mba infonya .. semoga kita semua bisa memperbaiki diri yang lebih baik lagi amiiin

    BalasHapus
  17. seakan tidak percaya bisa buat cerita pake Sudut pandang org ke2.

    Bagus banget, isinya membuat saya merenung dan mulai berpikir. Kapan terakhir kali saya memuhasabahkan diri ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenapa bisa seakan gak percaya gitu, Mas?

      Hapus
    2. karena saya sebenarnya menganggap bahwa sudut pandang orang kedua itu, tidak ada dalam sebuah cerpen, dan karya cerita lainnya. JIka kita memaksakan, untuk menggunakannya, maka akan terkesan sudut pandang orang ketiga. Kenapa?

      Jika kita menggunakan sudut pandang orang kedua, maka akn terkesan seseorang menyuruh tokoh utama.
      Contoh: "Kamu, karena merasa dipanggil, lalu menolehkan wajahmu kepadanya." kalimat itu menunjukkan bahwa cerita dipengaruhi orang yang mengatakan "kamu" nah ini seakan menunjukkan sudut pandang orang ketiga.

      Sebenarnya, adanya SP Org kedua dalam sebuah cerpen/novel/dll itu masih sering didiskusikan di forum2 sastra Indonesia. Loh bahkan sampai sekarang.

      Oh iya, saya ada nih, komunitas Blogger Sastra Indonesia. Nanti kapan2 saya ajak mbak gabung. Boleh kan?

      Hapus
  18. Iya, boleh.

    Sebenarnya saya hanya penikmat sastra. Jadi ya teorinya masih minim juga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah saya juga penikmat sastra, masih minim teori...

      Hapus