Senin, 29 Juni 2015

Sebab Pelangi, Kini, Tak Lagi Berwarna-warni

Assalamu’alaikum wr wb. Apa kabar teman-teman semua? Semoga selalu dalam dekap lindungan dari Allah SWT.

Sebenarnya, pada Ramadhan kali ini, saya lebih memilih untuk meng”kupu-kupu”kan diri dari dunia perbloggeran. Memilih untuk vakum memposting tulisan maupun komentar di blog, dikarenakan suatu alasan yang rasanya tidak perlu saya ceritakan. Tapi tidak untuk hari ini, di hari ke-12 Ramadhan. Ada keresahan begitu mendalam yang saya rasakan. Sebuah keresahan yang membuat saya memutuskan untuk menuliskan artikel ini. Disini, hari ini juga.
***

Sejak kecil, apabila saya ditanya oleh orang-orang yang lebih dewasa tentang warna apa yang saya sukai, maka saya akan merasa kebingungan. Bukan karena tidak memiliki warna yang saya jadikan favorit, tetapi karena orang yang bertanya kepada saya kerap mengatakan bahwa saya hanya boleh memilih satu warna yang paling saya sukai untuk dijadikan warna kesukaan. Padahal saya selalu menyenangi banyak warna, tidak hanya satu. Maka sejak saat itu, jawaban tentang warna favorit saya selalu berubah-ubah seiring dengan berjalannya waktu. Saya pernah menyukai kuning, kemudian hijau, berubah menjadi jingga, lalu merah, kemudian abu-abu, dan beranjak menjadi biru. Tetapi kemudian saya sadar, bahwa saya tidak bisa benar-benar hanya menyukai satu warna saja. Maka, ketika sudah beranjak dewasa, dan ditanya tentang warna kesukaan, saya akan menjawab: pelangi! Sebab rasanya, hidup terlalu indah untuk memaksamu menyukai satu warna saja. Saya memutuskan untuk menyukai semua warna, diwakili oleh pelangi, sebuah spektrum yang menunjukkan bahwa perbedaan akan menjadi benar-benar indah apabila dipersatukan.

Beberapa hari yang lalu, adik laki-laki saya membacakan sebuah judul headline di sebuah portal berita online yang berbunyi kurang lebih seperti ini “TANDA KIAMAT SUDAH DEKAT: 50 NEGARA BAGIAN AS LEGALKAN PERKAWINAN SESAMA JENIS”. Dia kemudian menghela napas sejenak, bertanya kepada saya, “Udah tau, belum?”
Mendengar pertanyaannya, saya kemudian mengangguk lemah. Menjawab sekenanya, “Udah…”

Legalisasi perkawinan sesama jenis.
Saya tak tahu lagi bagaimana reaksi malaikat ataupun Nabi Luth tatkala mengetahui bahwa di bagian bumi sana, di jaman semodern ini, ada sekelompok orang yang bersorak sorai dengan amat bergembira karena pengesahan peraturan baru ini. Peraturan baru yang sebenarnya membawa kepada kemunduran. Kata mereka, ini adalah sebuah kemenangan atas kemanusiaan. Bahwa melakukan perkawinan sesama jenis adalah hak bagi setiap manusia. Apakah memang benar seperti itu?

Tidak, saya tidak akan menceritakan bagaimana tragisnya nasib kaum Nabi Luth akibat perbuatan homoseksual yang mereka agung-agungkan di jaman itu. Saya juga tidak akan membawa dalil-dalil dalam agama untuk menentang kebijakan ini. Sebab bukan kompetensi saya untuk berbicara di ranah tersebut.

Sejauh ini, yang saya pahami, pernikahan adalah tentang menikahi perbedaan, bukan menikahi persamaan. Bahwa sejak awal manusia telah diciptakan berpasang-pasangan. Lelaki dan perempuan. Adam dan Hawa. Fulan dan Fulanah. Pernikahan adalah tentang saling melengkapi, saling menyempurnakan. Bahkan dalam agama yang saya yakini, pernikahan adalah sesuatu yang teramat sakral, sesuatu yang akan menegakkan separuh agama.

Lagi, yang saya pahami. Dari menikahi perbedaan tersebut, maka satu diantara sekian banyak fungsi pernikahan akan dapat tertunaikan. Fungsi untuk melanjutkan keturunan. Saya kira, fungsi yang satu ini tidak akan bisa berjalan apabila pernikahan dilakukan dengan sesama jenis. Lelaki dengan sesama lelaki, misalnya. Bukankah tidak ada seorangpun lelaki di dunia ini yang memiliki tempat tumbuh kembang untuk seorang anak senyaman rahim Ibu? Pun sama. Pada pernikahan antar sesama perempuan. Boleh jadi setiap perempuan memang memiliki tempat tumbuh kembang ternyaman itu, sesuatu yang kita sebut sebagai rahim. Tapi, bukankah tidak ada seorangpun perempuan di dunia ini yang memiliki “bibit” untuk menumbuhkan anak di dalam rahim?

Kita semua paham bahwa lelaki dan perempuan memiliki fitrahnya masing-masing. Bagaimana seorang lelaki telah diciptakan dengan sifat maskulin sehingga dijadikan pemimpin dalam keluarga. Bagaimana seorang perempuan telah dianugerahkan dominasi atas perasaan penyayang, lemah lembut, dan kelembutan-kelembutan lainnya yang akan menunjang perannya sebagai seorang Ibu.

Saya tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya apabila saya adalah seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga dengan perkawinan sejenis. Betapa masa kecil saya akan ditumbuhi kebingungan tak berkesudahan, sebab saya memiliki dua orang ayah tanpa ibu, ataupun memiliki dua orang ibu tanpa ayah. Akan ada hal-hal krusial yang hilang dari diri saya.  Sentuhan alami dari kombinasi antara seorang lelaki dan seorang perempuan yang seharusnya membentuk kepribadian saya secara utuh. Bisakah saya mendapatkan hal tersebut apabila kedua orangtua saya adalah pelaku perkawinan sejenis? Dan sebuah pertanyaan retorika lainnya adalah, bisakah saya menjadi seseorang yang dilahirkan di dunia ini?

Tentang pelangi.
Seperti hal-hal lainnya yang saya pahami sesuka hati saya, maka pemahaman saya tentang pelangi selalu saja tentang perbedaan. Tentang perbedaan yang dipersatukan dan menjadi indah. Tetapi tidak dengan mereka, kaum LGBT (Lesbian Gay Biseksual Transeksual). Saya tak tahu atas dasar apa, tetapi mereka menjadikan “pelangi” sebagai simbol mereka.

Saya pernah menjadikan warna-warni pelangi sebagai background di kertas yang dipergunakan untuk media kampanye penolakan terhadap kekerasan seksual. Melihat hal tersebut, ketua angkatan saya sekaligus teman di BSHC, Muhammad Amin, malah bertanya “Loh, kenapa backgroundnya pelangi, Dar? Bukannya itu identitas kaum homo ya?”. Ketika itu, saya woles saja menjawab, “Gak tau, Min. Emangnya pelangi cuma mereka aja yang boleh pakai?”.


Hingga saat ini, saya tetap menyukai pelangi. Tak peduli dengan kenyataan bahwa pelangi telah diklaim sebagai simbol kaum homo. Tetapi saya tetap tidak setuju dengan legalisasi perkawinan sesama jenis. Bukankah perbedaan itu indah? Lalu, kenapa harus melegalkan yang sama? :’)


Adapun tulisan ini, semoga saja merupakan sebentuk kecil dari kelemahan iman saya yang kemudian berontak, karena tak dapat berbuat banyak untuk menentang kebijakan tersebut.

36 komentar:

  1. Tanda-tanda akhir zaman sudah semakin jelas...

    BalasHapus
  2. Yah. Gimana ya. Aduh bingung.

    BalasHapus
  3. Masa-masa ke depan tampak akn jauh lbh suraamm :'(

    BalasHapus
  4. Benar-benar kemerosotan moral yang berdampak buruk buat masa depan

    BalasHapus
  5. wah dunia udah semakin suram, perkawinan sesama jenis dilegalkan, moral ditinggalkan untuk kebahagiaan sesaat :-(

    BalasHapus
  6. entah memang aneh. disaat banyak lawan jenis yg belum menikah, mereka malah memilih sesama jenis. menyedihkan :(

    BalasHapus
  7. Waalaikumsalam Wr. Wb
    Kemana aja nih Dar ga nongol-nongol? :D

    Makin parah aja nih Dunia, kaya'a bener" bakal cepet berakhir nih dunia :(

    BalasHapus
  8. Tentang foto pelangi ini ya . . ?? entah kenapa sejak ada wacana itu, di bbm banyak banget yang masang dp foto pelangi tanpa tau apa sebenernya artinya itu . . errr
    E tapi cover film AADC juga pelangi loh . . jangan2 si Rangga nggak kunjung nembak cinta karena diaaaa . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ra... Rang... Rangga ... Ta... Tapi... Kan... :(

      Hapus
  9. Menyedihkan, gak habis pikir. Mungkin inilah salah satu tanda.

    BalasHapus
  10. jadi ngerusak keindahan ya :)
    biasanya isu HAM dijadiin alat legalisasi LGBT

    BalasHapus
  11. iya semakin horor ya dunia ini :(

    BalasHapus
  12. Ini apaan, sih? Dari pelangi nyambung ke perkawinan sejenis. Setelah baca sampe habis, baru ngerti. Oh, ternyata lambang pelangi dijadiin simbol homo. :))


    Ya Allah, gue yang udah sering disakitin wanita aja masih mau sama wanita. Mereka yang suka sesama jenis kenapa, ya? Astagfirullah. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Yog. Kenapa mereka bisa sampai suka sesama jenis gitu sih? :(

      Hapus
  13. ya semoga indonesia ga latah juga ngikutin buat legalisasi pernikahan sesama jenis.

    bener sih serem juga ya kalo pernikahan sesama jenis ini udah lumrah, bakal kaga laku bidan, soalnya kaga ada yg melahirkan.

    BalasHapus
  14. aku juga bingung sampe skrg. Kenapa LGBT harus di simbolkan dgn warna pelangi? huh -___-

    Kadang aku juga mikir, apa sih yg ada dipikiran mereka sampe bsa suka dgn sesama jenis gitu. Makin lama makin parah aja kehidupan kita ini.
    Moga aja, LGBT gak sampe di izin kan ya di Indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kan? Padahal pelangi itu indah banget. Enak banget mereka ngaku-ngaku pelangi jadi simbolnya. Hih.

      Semoga aja di Indonesia masih ada yang ngerti bahwa LGBT gak seharusnya dilegalkan :)

      Hapus
  15. Heran sama yang mendukung LGBT. Jangan-jangan mereka...

    Sedih.

    BalasHapus
  16. yah kalo gue sih lebih baik mempersiapkan diri dan materi buat mendidik anak gue nanti..

    udah gue duga kalo dimasa depan nanti indonesia ama amerika gak ada bedanya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip deh, Om Slemut! Mempersiapkan diri buat pendidikan anak yang terbaik pokoknya :D

      Hapus
  17. jaman sekarang menakutkan banget, apa lagi dengan pernikahan sejenis atau hubungan sesama jenis, naudzubilahimindzaliq,
    walaupun simbol pelangi di jadikan simbol homo, bagi saya pelangi tetep indah apa lagi ketika habis turun hujan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Def. Lebih menakutkan daripada film horror :/

      Hapus
  18. pertama kali denger ini aku takut, bingung, kesel, dan bersyukur..

    alhamdulillah, dikasih "normal"

    BalasHapus