Senin, 27 April 2015

Prolog

Image source

Sepertinya, setiap bayi yang baru dilahirkan adalah imigran gelap dari surga yang berhasil diselundupkan ke dunia. Bukankah orang yang diselundupkan seringkali ditimpa nasib malang? Dan, hei. Bukankah aku juga pernah menjadi bayi yang baru dilahirkan? Kurang empat bulan lagi untuk menyebutnya dua dekade yang lalu.

Apakah memang se-malang itu? Karena yang terekam dalam hippocampus-ku adalah pelukan erat dari seorang malaikat saat aku baru saja sampai di dunia. Ingatan bawah sadar-ku merekam dengan sempurna betapa hangatnya pelukan itu. Dan aku yakin benar, ada seorang malaikat lagi yang membisikkan adzan dan iqamah di telingaku.

Rasanya, di dunia ini, semua tempat adalah indah selama aku bisa duduk dan tumbuh besar bersama mereka :)


Disclaimer:
Inspired by Pidibaiq and an ayat in the Holy Quran.

“Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia Menciptakan apa yang Dia Kehendaki, Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia Kehendaki, dan Memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia Kehendaki,” (Q.S Asy-Syura: 49)

32 komentar:

  1. Oh, empat bulan lagi ulang tahun.
    Selamat ulang tahun ya, Dara. *komentar ini disimpan dulu, bacanya empat bulan lagi*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oke bang. Ntar aku balas empat bulan lagi.

      Hapus
  2. pidibaiq. haha
    setuju, semua tempat adalah indah jika dinikmati bersama semua orang tersayang.

    BalasHapus
  3. rasanya baru kemarinbya Dar menjadi bayi, tau tau besok uda dilamar orang eeeaaaa

    BalasHapus
  4. #KodeKeras

    Oh jadi dulu lo pernah bayi ya? Gue kirain langsung gedhe segitu...

    BalasHapus
  5. "Sepertinya, setiap bayi yang baru dilahirkan adalah imigran gelap dari surga yang berhasil diselundupkan ke dunia." kalimat cerdas, nih.

    BalasHapus
  6. sejatinya, dunia memang tepat yang indah selama kita dikelilingi orang yang kita cinta.
    suka sama perumpamaannya, tentang bayi dan imigran gelap.

    BalasHapus
  7. dunia itu akan teras lebih indah jika kita hidup dengan orang-otang yang kita cintai terutama orang tua kita :)

    BalasHapus
  8. Waaah lucu nih prolognya. Beneran serasa bayi. :)
    Salam kenal yaa! \(w)/

    BalasHapus
  9. Entar kalok kita uda 'dibawa pergi' sama suami, bakalan ada perasaan sedih yang luar biasa ya, Dar.. T_T *lagi baper*

    BalasHapus
  10. Awalnya aku pikir, "Nih anak mau ngaku jadi pacarnya Dilan? (bukunya PidiBaiq)" karena kalimat pertamanya adalah kalimat yg sering diucapin ama Surayah. ternyata engga. xD

    Kalo ada prolog begini, biasanya akan ada bagian ceritanya, trus ada epilognya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngaku jadi istri Dilan boleh nggak? :/

      Berarti cerita ini harus ada lanjutannya gitu, bang?

      Hapus
    2. Emang mau?

      Biasanya gitu. prolog kan cuma pengantar/kalimat pembuka.

      Hapus
    3. Kayaknya gak mau.

      Tapi kan... Tapi kan... Maksud "prolog" disini tuh judul tulisannya aja, bang. Judul tulisannya "Prolog", bukan mau ngejadiin ini sebagai prolog...

      Hapus
  11. Pidi Baiq emang inspiring banget ya dalam menciptakan rangkaian kata yang bermakna :D

    BalasHapus
  12. Saya juga bayi dua dekade lalu. Hehehe. Jadi, teringat harapan orangtua saya ketika dilahirkan. :D

    BalasHapus
  13. Wisshhh .. kata2nya dalem .. gue curiga ini nulisnya sambil didalem sumur ... hihihii peace
    4 bulan lagi yaa .. semoga waktu itu segeta datamg yess ..

    BalasHapus
  14. Dari alam roh ke alam rahim terus lahir kedunia.. Itulah manusia.. Yang paling menentukan di alam dunia ini.. Kalau lulus ujian bisa selamat di akheratnya nanti.

    BalasHapus
  15. Siap-siap ya menghadapi arti hidup sebenarnya...

    BalasHapus