Sabtu, 04 April 2015

Sebuah Sederhana yang Membingungkan

Assalamu'alaikum! 
Alhamdulillah ini cerbung part 2 akhirnya selesai juga huehehe.
Bagi yang belum baca part 1 nya, monggo cek dimari Perasaan Ini Begitu Indah, Bantu Aku Menjaganya
Yuk, kita mulai part 2 nya yaaa.
Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Image source


Karena kini memang belum saatnya…

Matanya yang sedari tadi menerawang kosong tiba-tiba mengeluarkan air hasil proses lakrimasi dari saluran yang menghubungkan indra penglihatan dan penciumannya. Disekanya air bening itu, namun konspirasi antara syaraf-syaraf dan saluran lakrimalnya masih belum mau berhenti. Lagi, aliran sungai kecil terbentuk dari kedua pipi indahnya.


Ia masih mengingat kutipan dari buku yang dibacanya pagi tadi, sebuah kalimat indah dari Buya Hamka.

"Ayah takut, jika kecintaan Ayah kepada Ummi melebihi kecintaan Ayah kepada Allah…"

Ia menghempaskan napasnya begitu kuat, merasa sangat jauh dari Rabb-nya ketika membaca kalimat tersebut. Rasanya sakit, seperti ada benda tajam yang menikam tepat pada lobus dextra hepar miliknya. Batinnya perih, sukmanya kusut masai. Pertanyaan-pertanyaan yang semakin membingungkan berkecamuk di kepalanya silih berganti.

Mengapa jantungmu berdetak cepat saat pemuda itu menanyakan namamu? Apakah itu yang seringkali dilontarkan para muda-mudi masa kini? Sebuah perasaan bernama cin…? Ah, tak mungkin!

Kalimat dari Buya Hamka masih menempel di korteks serebri miliknya. Tiba-tiba ia juga merasa takut jika ada seorang pemuda yang dicintainya melebihi bagaimana ia mencintai Rabb-nya. Aliran sungai dari kedua pipinya semakin deras saja, membanjiri hatinya yang sedari tadi telah kuyu.

Tuhan, maafkan aku, jika mencintai-Mu, dengan cara yang terlalu sederhana…

Di seberang kamarnya yang dihiasi wallpaper berwarna biru laut itu, di sebuah tempat lainnya, Hasan masih duduk termangu. Menguntaikan simpul demi simpul makna pertemuannya dengan seorang gadis beberapa jam yang lalu. Gadis yang bahkan tak ia ketahui namanya. Mereka memang seringkali berjumpa, namun hanya menundukkan pandang kala tak sengaja berpapasan jalan. Sikap gadis itu pun masih tak dipahaminya berarti apa. Semakin dipikirkan, semakin ia hilang akal dibuatnya, gugup tak keruan. Tanpa disadarinya, tangannya yang sedari tadi menggenggam ponsel tiba-tiba mengetik kata demi kata. Pikirannya masih mengawang, entah neuron dan transmitter apa yang membuat jari-jemarinya bisa mengetik secara sempurna, dengan sukses mentransferkan sebuah kalimat dari hipotalamusnya kepada layar sentuh berukuran 4 inchi di genggamannya.

Mengapa kau membelenggu hatimu terlalu dalam? Padahal disini, telah kuseduh secangkir cinta untukmu...



SENT.

43 komentar:

  1. KEREN kak !!!!! Kadang gue juga berpikir apakah gue udah mencintai Tuhan lebih besar daripada cinta gue ke gebetan . . malah kalo inget gebetan jadi kadang lupa sama Tuhan . . Ya Allah . .
    cerbungnya mantap . . next part 3 . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi ini mesti dilanjutin ke part 3 ya? ._.

      Hapus
  2. Mungkin secangkir saja tidak cukup.. Harus sepoci.. Huahahahaaaa.. :D

    BalasHapus
  3. Cerbung yang bagus :D bener sih ya pesannya, kenapa kebanyakan kita mencintai sesama lebih besar ketimbang mencintai Allah :'

    BalasHapus
  4. Duh.... Dalem :3
    Sayangnya gue nggak paham bahasa anak kedokteran. Huehehe :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya, ntar lanjut kedokteran aja, Yu :))

      Hapus
  5. memang benar ya .sastra itu berat...... tapikeren kok, bagus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi, sebenernya, lebih berat sastra atau beban hidup sih? :(

      Hapus
    2. sastra, beban hidup mah gak ada kalau kita menikmati hidup ini tanpa mengeluh

      Hapus
    3. Eaaak, semakin hari Muhae semakin bijak :D

      Hapus
  6. Balasan
    1. kata-kata dalam kedokteran mungkin bisa diganti dengan kata-kata yang banyak orang pahami,takutnya bingung aja waktu lgi baca, contoh : hipotalamus,Lobus dextra hepar ,aku sempat bingung.
      atau di awal cerita jelasin dulu :D

      Hapus
    2. Eh iya, sebenarnya itu ada kayak catatan kaki-nya gitu, definisi dari istilah-istilah medis yang aku pakai di cerita ini. Tapi ntar-ntaran aja deh aku update ya hehe. Makasiiiih Andrian :)

      Hapus
  7. ajib part 2 nya meluncur ke part 1. biyar gak penasaran.

    BalasHapus
  8. Lobus dextra hepar apa sih? Ulu ati ya? Heheh

    Btw, cintanya dikit banget, cuma secangkir. Cintaku aja seluas samudra, setinggi angkasa dan berkecepatan 69 tahun cahaya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Reng. Hepar itu hati. Lobus dextra itu lobus kanan. Boleh lah dibilang ulu hati :))

      Cintamu seluas samudra? Itu pasti dusta, Renggo! Dustaaa!!!
      Nonton bioskop aja lo sendirian... huahahaha

      Hapus
    2. Kenapa harus angka 69 Renggo? :))

      Hapus
    3. Nah, pertanyaan gue sama kayak Yoga :))
      Jawab, Renggo! JAWAB!!!

      Hapus
  9. ke part 1 dulu nih, sebaiknya dikasih link buat part 1. xixixi

    BalasHapus
  10. cerbungnya makin mantap nih mbak,di tunggu cerita selanjutnya :D nanggung ah kalau segini :D

    BalasHapus
  11. Ternyata yang pertama gue udah baca. Hehehe. Ah, agak kurang ini, kurang panjang sama kurang greget. Entah kenapa, lebih enak baca yang pertama. IMHO. :D
    Tapi keseluruhan suka, ada nasihan di tulisan ini.

    Kalo saran gue, mending dilanjutin. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih loh sarannya, Yog. Gue emang lagi butuh saran yang membangun kayak gini nih :))

      Hapus
    2. Lebih baik jujur sama penilaian, kan? :)

      Hapus
  12. Enak bacanya. Sayhdu. Subhanallah. Hebat kamu

    BalasHapus
  13. Pemilihan kalimatnya luar biasa, kisah yang menyedihkan tapi harunya tuh disini, ^.^

    Keren, ^.^

    BalasHapus