Senin, 11 Mei 2015

Fragmen Pertama

Sejak Ayah dipindahtugaskan ke Kota Pontianak, maka baru kali inilah aku kembali mengunjungi tempat kelahiranku. Tempat yang harus ditempuh perjalanan belasan jam menggunakan klotok, sebab harga tiket pesawat terlalu melangit bagi orang-orang bumi seperti kami. Sekarang, jarum jam menunjukkan pukul 7 malam, saat klotok yang kutumpangi merapat ke Kubu untuk menurunkan dan menaikkan sebagian penumpang. Tujuan utama dari perjalanan klotok ini masih jauh. Masih sekian jam lagi.

Pandanganku terlempar jauh menembus kabut malam. Terlampau jauh hingga dapat menembus ruang dan waktu. Pikiranku terbang ke masa lalu, saat fenomena sebuah buah yang gugur dari pohonnya menjadi sebab musabab atas pertalian persahabatan yang terjalin antara kita berdua.


Awal mulanya, kau bilang bahwa buah ini aneh, sebab bentuk dan duri yang tak familiar kau jumpai di negaramu. Tapi saat daging buah yang tebal berwarna kuning itu menyilaukan matamu, kau tak pernah mampu menahan godaannya hingga saat ini. Saat papila-papila di lidahmu mulai mencerna rasa yang teramat baru bagimu, saat itu pula kau mengubah persepsi tentang buah yang awalnya kau anggap aneh itu. Sejak saat itu hingga kini, kau selalu berkata bahwa kau mencintainya.

*ehem*

Durian is a fruit from heaven,” ucapmu kala itu.

Sungguh, sebenarnya aku tak pernah mengerti maksud perkataanmu. Bahasa yang kukira entah dari planet mana, sebab aku terlalu bodoh untuk tahu artinya. Yang aku tahu hanya binar matamu. Yang aku tahu hanya senyum yang terkembang saat kau mengatakannya. Dan pikiran masa kecilku menyimpulkan bahwa kau menyukai rasa khas buah itu. Ya, mungkin seperti itu. Sebab setiap kali Pak Usu membawa parang untuk membuka durian, kita akan berkejar-kejaran, saling berlomba untuk menyantap durian yang dibelah paling pertama. Sebab apabila terdengar bunyi durian yang gugur dari pohonnya, kita pun akan tetap berkejaran, mencari sumber suara dan memperebutkan durian itu dengan orang utan.

Disini, di Cabang Panti. Seperti itulah masa kecil yang berhasil terekam dalam kepalaku. Ketika segalanya membaur indah membentuk harmoni. Kala kearifan lokal dan kemurnian ekosistem berhasil membentuk rekaman masa kecil yang indah, terlebih pada setiap fragmen-fragmen kehidupan saat kau datang dan menjadi teman bermainku.

Dan, seperti awal mula perjumpaanmu dengan buah itu, seperti itu pula aku menganggapmu. Seseorang yang kuanggap aneh sebab bahasa yang kau gunakan teramat asing di telingaku. Saat itu aku masih belum mengenyam bangku pendidikan, karena fisikku dianggap terlalu kecil untuk bersekolah sebab tangan kananku masih belum bisa menyentuh telinga kiri saat kucoba melingkarkannya di atas kepala. 

Aku menganggapmu orang aneh, sebab gradasi kulit kita yang teramat jauh berbeda. Aku yang telah terbiasa bermandikan cahaya matahari khatulistiwa tentu membuat pekat warna kulit yang berbeda jauh jika dibandingkan dengan dirimu, sebab kau pernah bilang bahwa kau tinggal di negara yang musim panasnya bahkan lebih dingin daripada musim hujan disini.

Kau juga kuanggap aneh, sebab setiap aku berada di dekatmu sejak sekian tahun dari pertemuan pertama kita, ada sesuatu yang rasanya membuncah di hatiku. Sesuatu yang tak lagi sama rasanya jika dibandingkan dengan dahulu. Bahagia yang tercipta saat dulu selalu saja disebabkan oleh rasa senang makan durian, ataupun karena aku yang terlalu senang hingga tertawa lepas kehabisan napas sebab bisa mengalahlan lelaki sepertimu dalam permainan kejar-kejaran yang sering kita mainkan. 

Tapi sekarang, buncah bahagia itu tak lagi sama. Sebab aku bisa merasakannya tanpa perlu makan durian ataupun menang berkejaran dari dirimu. Sebab aku bisa merasakannya dengan begitu kuat saat berada di dekatmu, bahkan hanya dengan memikirkan dirimu.


Celakanya, kini, kita sama-sama telah beranjak dewasa.

41 komentar:

  1. Dari Negara mana ya temannya?? Hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hah...berarti tetanggaan dong sama sayah

      Hapus
  2. 'Papila papila lidahmu'

    Njirr papila :v
    Btw, itu anak orang mana? Nyasar gitukah di kalimantan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak STM belajar tentang papila lidah gak sih, Yu?

      Itu bukan anak nyasar, dia mah peneliti orang utan di Kalbar.

      Hapus
  3. Haha, mungkin doi tertarik tuh sawa duren :3

    BalasHapus
  4. Duren emang bener2 buah surgaa :3

    BalasHapus
  5. Pertemuan yang mengharukan, mungkin itu semua gara2 duren hahaha

    BTW maksut nya " aku menganggapmu orang aneh, kau juga ku anggap aneh " apa ya ??? :-))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya nanyain maksud "aku menganggapmu orang aneh, kau juga ku anggap aneh" gimana, Bang? Gak mudheng aku :(

      Hapus
  6. Trus kenapa kalok sama-sama dewasa, Dar? ._. *lagi enggak konsen*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perasaan bahagia-nya beda antara pas masih kecil sama pas udah dewasa, kak ._.

      Hapus
    2. Kenapa gitu, Dar? ._. *masih enggak konsen* *trus dijejelin kulit duren*

      Hapus
  7. Bodo amat dengan kisah taksir-naksirnya, aku fokus ke duriannya aja. di kampungmu duriannya dijual berapa? kualitasnya bagaimana? biaya transportasinya berapa? *mari berbisnis* *tapi nggak jadi deh*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emangnya kisah taksir-naksirnya keliatan nyata, ya, Bang? Ini fiksi kok u,u

      Kampungku ya di Pontianak, tau sendiri lah harga durennya gimana :)

      Hapus
  8. Cieee cinta monyet an ama bule cieeee ..
    aku nggak terlalu suka duren . , apalagi kalo harus beli sendiri ..
    kalo dikasih ya hayukkkk !!

    BalasHapus
  9. aku kurang suka duren sih,tapi kata yang suka mah duren tuh enak banget :)

    BalasHapus
  10. Di Bandung mah apa atuh ada bule juga nggak bisa dilihat sehari-hari, cuma turis aja gak pake neliti-neliti segala macem jadi kalau ngeceng yaudah lah lewat :(
    Salam kenal, Dara! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga, Safira.
      Ayo, kesini aja. Banyak researcher bule nih :)

      Hapus
  11. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan

    1. Dar dar,,,penuh istilah medis ni,.ehem...papila papilaa

      Hapus
    2. Kak Nita udah kayak si Wahyu aja komentarnya. "dihapus oleh pengarang" :D

      Hapus
  12. Cinta dibalik nikmatnya duren, kayak gitu ya mbak? :D

    BalasHapus
  13. Harga durian di sini, jakarta mahal banget. Beda sama duren alias duda keren buayaaaaaak ahahaa

    BalasHapus
  14. Awww. Tulisannya manis. :)

    BalasHapus
  15. Ada rahasia di balik cerita.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi gak boleh main rahasia-rahasiaan :/

      Hapus
  16. Klothok itu apa sih mbak ._.

    Gilak ini tulisan, kosakatanya kok ngeri ya, papila lidah, gradasi kulit :D kereeeen ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Klotok itu sejenis motor air. Tahu motor air gak? Kalau ga tau mah tanya sama Kak Beb aja, bang.

      Bentar bentar... Itu letak kerennya papila lidah sama gradasi kulit, dimananyaaa? :/

      Hapus
  17. sampe sekarang ga suka-suka sama durian. pertama kali nyoba durian malah muntah -_-

    BalasHapus
  18. cintaku berawal dari buah durian :v :v mungkin kalo dibikin sinetron judul yang paling cocok ya itu :D :D wakwakwak

    BalasHapus