Selasa, 19 Mei 2015

Tentang Negeri-Negeri

Alkisah, terdapatlah sebuah negeri yang alamnya dianugerahi kekayaan begitu melimpah. Tanahnya sangat subur, dapat menumbuhkan berbagai jenis tanaman dengan mudahnya. Lautnya sering membuat negeri-negeri lain memendam iri, sebab berbagai jenis ikan hidup dengan baik di kedalamannya. Negeri ini amat kaya, bahkan hingga tanah terdalam yang tak mampu lagi dihujam oleh akar pepohonan. Disana, tersimpan begitu banyak sumber minyak bumi dan tambang lain yang menjanjikan kesejahteaan hidup apabila dikelola dengan baik dan benar.

Negeri ini memanglah kaya, tapi ada hal yang selalu janggal di hati apabila kau mau ikut merenung bersamaku. Tapi sebelum itu, kau harus berjanji untuk tidak menyebarkan berita ini kepada siapapun. Cukuplah kita –kau dan aku- serta Tuhan yang tahu.

Begini. Aku pernah mendengar selentingan kabar burung, bahwa kekayaan negeri ini tidak hanya dinikmati untuk negerinya sendiri. Maksudku, negeri yang dianugerahi kekayaan di setiap jengkalnya ini tetap saja tidak dapat membuat masyarakatnya hidup sejahtera. Aku menduga bahwa ada negeri lain yang ikut menginfiltrasi kekayaan negeri ini, tetapi berhasil membuat masyarakatnya diam saja dan hampir tak pernah peduli. Sebab kabarnya, masyarakat negeri ini seringkali sibuk berkutat memperdebatkan hal-hal kecil yang jarang mendatangkan manfaat bagi mereka. Kalau aku tidak salah, orang-orang modern sering menyebutnya sebagai metode pengalihan isu.

Baru-baru ini, kudengar kabar menyedihkan yang datang dari negeri tetangga. Lagi-lagi, si burung mengabarkan padaku bahwa telah terjadi pengusiran dan pembantaian terhadap sekelompok etnis yang hidup disana. Maka, kelompok yang mengalami ketidakadilan di negerinya ini memutuskan untuk berlayar ke negeri-negeri lain, berharap kemurahan hati dari negeri-negeri kaya yang menjadi tetangga negerinya untuk dimintai bantuan.

Detik berganti menit, jam pun berganti menjadi hitungan hari. Setelah sekian lama waktu bergulir, sampailah mereka kepada negeri kaya yang baru saja kuceritakan padamu. Tentunya mereka sampai setelah melalui banyak macam cobaan. Mulai dari mengalami rasa lapar yang amat, sebab persediaan makanan selama pelayaran tidaklah mencukupi, hingga menghadapi kematian satu per satu kerabatnya selama masa berlayar.

Kini, susunan kepulauan negeri yang kaya itu telah terhampar di hadapan mata mereka, dedaunan nyiur melambai-lambai seperti memanggil mereka untuk sampai lebih cepat.  Tapi sayang, dugaan mereka atas pengharapan hidup yang lebih baik di negara kaya ini sepertinya tinggallah angan. Bagai cinta yang pada akhirnya bertepuk sebelah tangan, maka seperti itulah. Rupanya negeri-negeri yang kaya raya itu kurang senang atas kedatangan mereka. Negeri yang kaya raya itu mengkhawatirkan kondisi lumbung beras di negerinya apabila harus berbagi dengan para pendatang yang jumlahnya tak cukup untuk dikatakan sedikit. Ya, negera-negara kaya ini memutuskan untuk menolak kedatangan mereka.

Image Source

Duhai, saudara. Apakah lagi yang dapat kau jadikan alasan untuk mempertahankan hidup, ketika di negeri sendiri kau diusir dan dibantai, sedang di negeri lain, mereka yang seharusnya kaya dan dermawan, malah menolakmu secara berjamaah?

Allahu Yarham… Betapa beratnya ujian yang kau terima kali ini. Sebab kami pun, yang mengaku peduli, tetap tak dapat berbuat banyak untukmu.

Maka, akan kuceritakan sebuah kisah yang kiranya dapat mengurangi sedikit sesak di hatimu. Simaklah baik-baik, sebab jika pun kau tak dapat membacanya secara langsung, semoga Allah berkenan menanamkan hikmahnya di kebun hatimu, agar bermekaran bunga-bunga kesabaran yang dapat menggugurkan dedaunan sembilu.

Dahulu, di sebuah tempat bernama Thaif, seorang pemuda yang gagah nan perkasa menapakkan kakinya. Tentunya, setiap langkah kaki itu dimaksudkannya untuk kebaikan, untuk menyebarkan nilai-nilai dan ajaran yang dibawanya, agar penduduk setempat dapat keluar dari kegelapan atas segala kejahilan pada masa itu.

Tapi, apa yang didapatkan pemuda tersebut atas keputusannya yang terlampau berani itu? Sebab penduduk Thaif menilai bahwa dirinya terlalu lancang, sehingga tak ada yang berhasil didapatkannya melainkan hinaan dan pengusiran yang keji. Maka, diputuskannya untuk pergi meninggalkan Thaif. Tapi penduduk Thaif bukanlah dari golongan yang mudah habis akal, maka tidak dibiarkannya pemuda itu keluar dengan aman. Mereka terus menghujani pemuda itu dengan ejekan-ejekan, melemparinya dengan batu hingga tubuhnya berlumuran darah.

Tetapi, atas setiap ejekan yang pernah terlontar, bahkan atas setiap bongkah batu yang telah mengucurkan darah dari kulitnya, tak pernah sedikitpun dibalasnya penduduk Thaif melainkan dengan memohonkan ampunan Allah atas setiap khilaf mereka.

Kelak, pemuda ini akan kita kenal sebagai seorang utusan bagi seluruh alam, ialah Rasulullah Saw.

***

Sini, mendekatlah kawan. Akan kuceritakan padamu sebuah kisah lainnya. Tapi ini bukan tentang kabar burung lagi. Ini hanyalah cerita biasa yang kukarang-karang, yaitu tentang makna tersembunyi atas penciptaan sebatang pohon.

Kau pernah melihat pohon pinus dan cemara, bukan? Kusampaikan padamu, bahwa kedua jenis pohon itu adalah pohon yang tidak menghasilkan buah. Maka, perhatikanlah kemana arah percabangannya tumbuh. Ya, ke atas. Tumbuh lurus meninggi, laksana seseorang yang membusung dada, mendongak kepala.

Tapi, kemarilah. Kan kutunjukkan pula padamu hamparan pepohonan yang buah-buahannya lebat menebar manfaat. Maka perhatikanlah arah pertumbuhan cabang-cabangnya. Dan, ya. Jawabanmu benar lagi, kawan. Percabangannya tumbuh melebar ke samping, menjangkau seluas-luasnya tempat, laksana sahabat lama yang menyambutmu dengan tangan terbuka lapang, disertai kepala yang merunduk takjim.

Karena sejatinya, tumbuh tidaklah harus selalu ke atas. Terkadang kita perlu untuk bertumbuh ke samping agar saling terkoneksi. Merangkul, dan dirangkul, adalah syarat agar kita bisa maju bersama. Menjadi kuat bersama.

Image Source

Maka, adakah buah pelajaran yang dapat kau petik dari setiap episode kehidupan yang datang silih berganti, kawan? Sebab yang berharga, akan selalu sayang untuk dilewatkan begitu saja.


Lintang nol derajat, 19052015.

Barusan dapat kabar kalau ujian mikroskopik diundur *\(^_^)/*

36 komentar:

  1. Keren nih yang analogi pohon pinus itu . .
    Untuk negeri yang kau ceritakan itu, yang kaya tapi kekayaannya hanyalah sebatas isu. . nyatanya orang dinegeri itu sedikit sekali bisa menikmati kekayaan mereka sendiri . . hmm . . Kayak negeri kita ya .. hahaa ..

    Bukan Lautan hanya kolam susu . . Katanya
    Tapi kata kakekku, hanya orang2 kaya yang bisa minum susu . .
    Kail dan Jala cukup menghidupimu . . Katanya
    tapi kata kakekku, ikannya diambil oleh nelayan2 asing . .
    . . .
    Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman .. katanya.
    Tapi kata kakekku, belum semua rakyatnya sejahtera, banyak pejabat yg menjual kayu dan batu untuk membangun surganya sendiri.


    Salman ~ Tanah Surga Katanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurutmu, itu negeri kita ya, Ka? :D

      Hapus
  2. Indonesia sih yang kaya, tetapi banyak sekali rakyat yang tidak bisa menikmati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kaya dalam artian apa nih? Kalau alam mah semua bisa dinikmati.

      Hapus
    2. Nah, iya. Kaya apanya dulu, Fif?

      Hapus
  3. Aku nggak gitu ngerti tentang politik luar negeri. Apa pengaruhnya ketika menerima warga negara asing sehingga banyak negara yang mneghindari melakukan penerimaan tanpa jalur formal. Aku nggak mengerti.

    Tapi untuk saat ini, terjadi tekanan di beberapa negara perihal kejadian tersebut. Pemerintahnya ditekan untuk menerima. Ada penandatanganan petisi online juga. Berhasil atau nggaknya sih, tetap tergantung keputusan pihak pemerintah, tapi jika tidak sesuai dengan keinginan warganya, eksistensi pemerintah juga bakal terancam. Selain mendukung petisi, untuk saat ini palingan cuma bisa bantu secara materi, sumbangan. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Politik luar negeri aja gak gitu ngerti, gimana kamu mau ngertiin wanita, Bang. Pantesan jomlo :p Becandaaa becandaaaa.

      Nah, iya, Bang. Bantu sebisa kita :)

      Hapus
  4. negri kaya, bahkan terkaya di dunia, tapi kekayaannya bocor ke negara lain, lebih dari 5 negara ikut nikmatin kekayaan alam disini. tapi pribumi ga bisa ikut nikmatin. ngomongin ini mah suka emosi sendiri, ra. -___-

    rohingya ya?
    gelap mata ini orang yang ngusir, bahkan DPR di aceh juga ikut ngusir rohingya ya kalau ga salah. parah emang, padahal kemanusiaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo emosi sendiri mah gapapa, Bang. Asal jangan dilampiasin ke orang lain aja :)

      Hapus
  5. Jujur gue engga begitu ngerti, tapi gue browsing untuk memperjelas maksud dari ini, Ronghingyas itu yang muslim yang diusir itu ya, hmm sulit kalo sudah membahas seperti itu. tapi gue setuju banget sama kata-kata ini

    "Karena sejatinya, tumbuh tidaklah harus selalu ke atas. Terkadang kita perlu untuk bertumbuh ke samping agar saling terkoneksi. Merangkul, dan dirangkul, adalah syarat agar kita bisa maju bersama. Menjadi kuat bersama."

    Seandainya semua orang menyadarinya..mungkin akan indah.. seandainya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mulai menyadari dari diri sendiri :)

      Hapus
  6. haha pertama baca kirain mau cerpenisasi lagunya marjinal yang negri ngeri.. ternyata menceritakan sebuah negri yang kaya tapi hartanya entah kemana.. wkwkwk

    wah kasian tuh kaum rohingya, mungkin kalo dia berlayar ke jawa bakal diterima tuh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku gak gitu suka sama lagu marjinal, Bang :D

      Hapus
  7. Aseli, gue suka banged gaya tulisannya Sis. :-D

    BalasHapus
  8. Mungkin satu satunya mahluk hidup yang tidak dapt hak asasi. Kasian..

    BalasHapus
  9. Rohingya gitu yaa?
    Kayaknya waktu gue denger dan baca, kamis besok mau dikembalin lagi ke negaranya....
    Ntar dibunuh lagi...
    Entah masalah apa... Mungkin ras atau emang kaum yang terdiskriminasi disana...

    Btw. Ada yang salah deh kalau gue resapi...
    Pinus memang tumbuh tinggi dan tidak berbuah...
    Tapi bukan berarti pohon yang tumbuh tinggi bagaikan dada dibusungkan tidak selamanya berbuah.
    Contoh kelapa. Tingginya rata rata lebih tinggi malah dari pinus (tergantung sikon)...
    Tapi dia berbuah..

    Menurut gue lo bener,
    Tapi ada kata yang kurang, yaitu pinus tumbuh tinggi dan semakin keatas semakin lancip :))

    Cmiiw

    BalasHapus
    Balasan
    1. *tidak selamanya tak berbuah

      Hapus
    2. Wuih, cermat juga ya kamu, Yu. Makasih koreksiannya :)

      Hapus
  10. Padahal PBB udah menyerukan agar negara-negara ikut bantu migran Rohingya, cuma berita terakhir Indonesia mengabaikannya.
    Mungkin karena jumlahnya yag terlalu banyak.
    Malah sekarang saling menyalahkan, Indonesia minta Myanmar ikut bertanggung jawab. Padahal udah ada korbannya gara-gara kelaparan. Hmmmm .... mau sampai kapan coba...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau diteliti lagi sih, Myanmar juga harus ikut tanggung jawab, Om. Gak boleh lepas tangan aja. Menurutku sih gitu :))

      Hapus
  11. Keren asli tulisannya, banyak pembelajarannya juga

    BalasHapus
  12. Coba warga Indonesia bisa memanfaatkan sepenuhnya kekayaan yang ada Indonesia, pasti hidupnya kan lebih sejahtera dibandingkan dengan yang sekarang

    BalasHapus
  13. betul juga, yang bermanfaat untuk sesama
    yg kagak ada manfaat cenderung sombong dan mendongak

    BalasHapus
  14. dar...uda saatnya kamu bikin antologi..#Nah !!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, semoga bisa :D
      Tapi mau antologi yang barengan anak-anak blogger juga... Kira-kira siapa yang mau diajakin bareng ya? Mba Nita mau gak? :))

      Hapus
  15. Kalok uda masalah materi, ngga ada yang bisa adil deh kayaknya. Terlalu banyak yang tergoda hingga lupa pada niat mulia.. :'

    BalasHapus