Kamis, 14 Mei 2015

Pilihan

Image Source

Saya sangat bersyukur karena Allah telah pertemukan dengan mereka, adik-adik yang sedang berjuang keras dalam menggapai mimpinya untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Sebab bertemu dengan mereka, rasanya seperti menemui  diri saya sendiri, saat dua tahun yang lalu.

Menemui mereka, yang giat mempelajari soal-soal tes masuk perguruan tinggi. Menemui mereka, yang sibuk bertanya dengan senior disana-sini untuk meminta tips dan trik agar bisa lolos tes masuk universitas, terutama di fakultas kedokteran yang katanya susah untuk ditembus. Menemui mereka, para remaja tanggung yang semangat adalah sumber energi utama bagi mereka untuk terus bergerak, untuk terus berusaha. Menemui mereka, yang membawa harapan orang tua sebagai pemantik kemauannya untuk tidak lelah dan tak berhenti belajar. Menemui mereka, yang lisannya tak pernah putus memohon kepada Yang Maha agar dipermudah jalan mereka.


Menemui mereka, disaat saya terkadang lelah dan menganggap segala amanah yang tergantung di pundak sebagai beban, seringkali membuat saya malu. Ya, malu kepada diri sendiri. Karena secara kontekstual, yang kami pahami adalah bahwa dalam lingkup ini, saya yang berperan sebagai tutor mereka, mengisi waktu pertemuan kami untuk melakukan transfer ilmu yang dikemas dalam bentuk bimbingan belajar.

Tetapi ada kenyataan yang benar-benar baru saya sadari, dan saya coba untuk pahami dalam-dalam.

Kenyataan bahwa semua orang adalah tutor terbaik bagi seseorang. Dalam konteks ini, boleh jadi bahwa peran utama sebagai tutor telah di-plot kepada diri saya. Tapi secara harafiah, ada hal yang lebih daripada itu. Kenyataan bahwa adik-adik yang seharusnya saya transferkan ilmu kepada mereka, tapi malah merekalah yang telah menjadi tutor bagi diri saya pribadi. Mereka yang mengajari saya tentang apa itu pantang menyerah, mengajak saya kembali menyelami impian-impian yang telah saya ukir bertahun-tahun lalu, membawa saya kembali kepada idealisme-idealisme yang tercipta saat saya menapakkan langkah kaki terakhir untuk berpisah dengan masa putih abu-abu.

Mereka yang matanya jernih untuk menatap masa depan, walaupun harus berdamai karena gagal pada kesempatan pertama.

Mereka yang kembali menghentak kesadaran saya, bahwa saya seringkali lupa bersyukur, padahal telah Allah karuniakan nikmat untuk berada disini. Berada di sebuah tempat dimana banyak orang yang menjadikannya sebagai pilihan utama. Tapi saya seringkali abai, jarang sekali mentafakkuri mengapa Allah takdirkan saya untuk berada disini, padahal boleh jadi banyak orang-orang lain yang lebih baik daripada saya. Kenapa Allah takdirkan saya, seseorang yang mudah mengeluh hanya karena kuliah yang susah, jadwal yang tak tentu, ataupun mata yang lelah begadang, padahal boleh jadi ada orang-orang lain yang akan lebih baik daripada saya jika memiliki kesempatan untuk berada disini.

Hal ini mengingatkan saya kepada perkataan seorang teman yang disampaikannya pada saat orientasi kampus, “Kalian sadar gak, sih, dengan kita yang berada disini, sudah ada berapa banyak mimpi-mimpi orang lain yang telah kita hancurkan?” Dan pernyataan ini, yang disampaikannya dua tahun lalu, hingga hari ini masih tersimpan dengan baik dalam memori saya.

Saya talah memilih untuk berada disini, dan Allah pun begitu. Dia pilihkan saya untuk berada disini pula.

Maka, masihkah saya merasa berhak untuk bersantai, ketika keberadaan saya disini adalah merupakan titik temu antara pengharapan dan segenap usaha di masa lalu? Terlebih atas setiap doa Ibu dan Ayah yang tak pernah putus dipanjatkan kepada Yang Maha. Kenyataan bahwa Allah telah memilih saya untuk berada disini membuat saya memahami bahwa Dia telah memiliki rencana bagi saya, sebuah rencana yang tak bisa saya ketahui walaupun coba saya selidiki hingga ke akarnya. Tapi boleh jadi, rencana itu adalah bagai tali-temali yang akan mengikat simpul kepada pilihan-pilihan yang selanjutnya.

Karena memilih, seutuhnya dan sejatinya adalah tentang menerima. Memilih, sejak awal, adalah tentang meminang takdir Tuhan. Memahami bahwa ada “Tangan Lain” yang bermain dan ikut campur atas hasil dari pilihan yang kita genggam. Karena manusia, sesungguhnya hanya bisa menanam. Dan Tuhan, dengan segala kuasa penuh yang dimiliki-Nya, adalah yang berhak untuk menumbuhkan.

Sejujurnya, hanya sesederhana itu. Kau pahamilah baik-baik, maka semoga kekecewaan akan terbang bersama angin musim gugur, meluruhkan segala risau yang masih melekat pada dahan hatimu.


Lintang nol derajat.

Saat tugas, ujian, lomba, serta skripsi berebut tempat untuk minta diselesaikan.

64 komentar:

  1. UI memang susah, apalagi masuk FK UI -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. FK UI emang susah, eh tapi siapa yang kuliah di FK UI, Fif? -_-

      Hapus
  2. Apa yang kita pilih hari ini, akan menentukan apa yg akan anda dapatkan di masa depan

    BalasHapus
    Balasan
    1. tepat banget mas, mencari jalan di masa depan adalah sesuatu yang sangat sulit, sedikit salah langkah maka habislah.

      Hapus
  3. Tetap semangat mbak dara, kami selalu mendukungmu :)

    BalasHapus
  4. Selamat berjuang untuk menyelesaikan apa yang sudah jadi pilihannya yes . .??

    FK . . gue bayangin matkulnya aja udah ngeri ..
    ngulik ngulik mayat gitu gak sih ..??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sejenis gitu, Ka. Tapi nyantai aja sih. Ngapain juga dibawa ngeri...

      Hapus
  5. FK... Heeee, setelah lulus kuliah lanjut Koass.
    Setiap pilihan ada proses yg harus dilewati

    BalasHapus
  6. Assalamu Alaikum Wr.wb dan selamat pagi, Pertama tama saya ijin Follow blognya ya, yang ke dua saya ucapkan Selamat karena sudah diterima di FK UI, saya jadu teringat masa masa Kuliah kalau bahas masalah seperti ini, saya dulu ambil jurusan PGSD di UNM Makassar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumussalaam wr wb dan selamat malam.
      Pertama-tama saya ijinkan untuk memfollow blog saya, trus yang kedua saya bukan keterima di FK UI kok, Om...

      Wah, om dulu kuliah di PGSD? Sekarang jadi guru, ya?

      Hapus
  7. Tutor memang bisa dari siapa saja ka.. bahkan dari orang yang kadang kita sering gak anggap mereka justru menjadi guru yang luar biasa buat kita.

    jangan hancurkan mimpi orang-orang yang sudah rela memberikan jalannya untuk kita dengan kemalasan. #Introspeksi diri deh aku jadinya

    BalasHapus
  8. sesusah itu ya masuk kuliah ? untung aja gue gak ada niatan untuk kuliah.. :v

    BalasHapus
  9. Terus semangat mba
    #Ganbatte

    BalasHapus
  10. semua ini sudah direncanakan dengan baik oleh Allah SWT
    semanagt terus ya mba :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Om Obat Herbal :))

      Ngomong-ngomong, sariawannya udah sembuh, belum?

      Hapus
  11. Dan sedikit bersyukurlah aku karena akhirnya ngga nerusin masuk FKH.. :P Ngga kebayang kalok harus berhadapan sama Kimia, Dar. Aku bencik pakek banget. -_-

    Tapiiii..

    Beberapa kawan dan tetangga ku masuk FK UI, alhamdulillah mereka baik-baik aja kok. Emang sih ngga ada yang jadi blogger, at least uda terlalu sibuk pengabdian. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biokimia itu seru, kak! Tapi emang harus jago "mengkhayal", secara yang dipelajari itu barangnya ghoib semua, gak ada wujudnya ._.

      Ini kenapa pada bahas FK UI lagi sih...

      Hapus
    2. Malesin ah. Aku uda keburu baper sama kimia-kimiaan. Huhuhu.. :( *ngga bisa move on*

      Hapus
  12. Besarnya dan kerasnya usaha akan sebanding dengan hasil yang didapat. Semangat ya, Cabuter, Calon Ibu Dokter :))

    BalasHapus
  13. Besarnya dan kerasnya usaha akan sebanding dengan hasil yang didapat. Semangat ya, Cabuter, Calon Ibu Dokter :))

    BalasHapus
  14. Dari manapun dan siapapun kalau kita peka akan mendapatkan pelajaran, setiap langkah kita kan tersisip pelajaran. Cuma nggak semua orang menyadarinya.

    Orang tua pasti pengen yang terbaik untuk anaknya. Sekarang tergantung kitanya bisa menggapai kesuksesan seperti yang di impikan orang tua kita.

    BalasHapus
  15. gue gak sanggup dah kuliah FK, cumen kalo punya pacar anak FK, why not hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya anak FK pada gak sanggup pacaran deh haha.

      Hapus
  16. Memilih adalah menerima. Saya setuju ini. Kalau kita yang memilih, kita harus menerima konsekuensinya. :)

    BalasHapus
  17. semangat dan terus berusaha mba dara :)

    BalasHapus
  18. santai boleh, ra, gue juga bikin tugas masih bisa santai ko. haha
    tapi tetep tanggung jawab sama apa yang jadi tanggung jawab sebagai masiwa FK. semangat \m/

    BalasHapus
  19. Mbak De? Kesibukkanmu aduhai abis ya? disaat ada tugas, lomba, ujian, skripsi yang minta dikerjain, kami masih bisa nulis blog gokil. aku yang cuma tugas dan ujian aja, ngeluhnya minta ampun. Kamu Gokil. Kami gokil abis mbak *Sungkem

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin atas dasar inilah kata "prioritas" diciptakan, bang.

      Ah, Bang Febri mah sibuk pacaran :p

      Hapus
  20. ternyata anak fk itu orang-orang terpilih,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang bener itu, setiap orang udah dipilihkan untuk berada di suatu kondisi karena udah ditakdirkan sama Yang Maha :)

      Hapus
  21. Fk itu ngeri...
    Mayat orang aja diobrak abrik apalgi hati gue :'))

    BalasHapus
    Balasan
    1. azeeg wahyu uda tebar pesona ke dara.....hahahhahahahha
      *sambil mantau dari sini

      Hapus
  22. Dokter, cita-cita banyak orang. Tapi kalo ditelisik lebih dalam lagi, gak semudah itu ya buat meraihnya .
    Semangattt

    BalasHapus
  23. semangat terus mbak,jalani dengan penuh cinta. *asek

    BalasHapus
  24. tetap semangat ya, maju terus pantang mundur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau maju terus ntar nabrak, mas :))

      Hapus
  25. Kalau lulus jadi dokter, salah satu pekerjaan mulia bagiku selain guru. Mereka berjuang untuk keselamatan orang lain dan itu pun nggak mudah dalam melakukannya.

    Kamu udah ngambil keputusan, jadi jalanin aja dengan baik sist. Resiko memang ada tapi hasil yang didapat pasti bikin seneng.

    BalasHapus
  26. Wah, Selamat yah mba, selangkah lebih maju menuju cita-citanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Aamiin.

      Om, syaraf-nya masih kejepit? :O

      Hapus
  27. Abaikan yang di gambar mba, jangan pernah dengerin pikiran negatif dari orang lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoih, pus.

      Eh iya, ini lupus eritematosus atau Lupus yang novel itu? :/

      Hapus
  28. ngedenger inisial fk aja uda prestis banget ya dar
    emang aku blom bisa masuk sana
    mudah2an adekku tahun depan masuk FK deh xixiixix

    BalasHapus
  29. Ikutan melatih sbmptn di anex, Dar?

    BalasHapus
  30. Meluruhkan segala risau yang masih melekat pada dahan hatimu.

    Mantaplah!

    Gue taunya FK itu French Kiss. Eh, maaf, malah ngaco. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. French Kiss apaan sih, Yog? Merk permen terbaru yak?

      Hapus